Skandal di Tubuh Bea Cukai: Segel Ruangan Dirjen Hilang Misterius dan Lonjakan Rokok Ilegal
Kabar YPU – 10 September 2026 | Dunia birokrasi Indonesia kembali diguncang oleh rentetan persoalan serius yang menimpa direktorat jenderal bea dan cukai. Di tengah upaya penegakan hukum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terungkap sebuah fakta mengejutkan dalam persidangan terkait hilangnya segel ruangan milik Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budhi Utama, yang sebelumnya telah dipasang oleh tim antirasuah tersebut.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa penyegelan ruangan tersebut dilakukan sebagai langkah preventif dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang menyasar dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Penyidik menduga terdapat barang bukti krusial yang tersimpan di dalam ruangan pejabat tinggi Kementerian Keuangan tersebut. Namun, sebuah fakta pahit terungkap dalam persidangan terdakwa Budiman pada 9 September 2026, di mana jaksa penuntut umum menyebutkan bahwa garis pembatas atau segel KPK telah hilang saat tim kembali ke lokasi.
Mengenai alasan mengapa segel tersebut bisa dicabut oleh pihak luar sebelum penggeledahan sempat dilakukan, pihak KPK belum memberikan jawaban yang lugas. Budi Prasetyo hanya menyatakan bahwa seluruh rangkaian kegiatan, termasuk penggeledahan, sangat bergantung pada kebutuhan penyidikan dan ketersediaan alat bukti. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai keamanan lokasi penyidikan di lingkungan direktorat jenderal bea dan cukai.
Kasus korupsi ini bukanlah perkara baru. Sejak OTT pada Februari 2026, KPK telah menetapkan sejumlah pejabat dan pihak swasta sebagai tersangka. Berikut adalah daftar pihak yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam pengembangan perkara ini hingga Agustus 2026:
- Rizal (Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sumatera Bagian Barat)
- Sisprian Subiaksono (Kepala Subdirektorat Intelijen Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai)
- Orlando Hamonangan (Kepala Seksi Intelijen Bea Cukai)
- John Field (Pemilik Blueray Cargo)
- Dedy Kurniawan (Manajer Operasional Blueray Cargo)
- Andri (Ketua Tim Dokumentasi Importasi Blueray Cargo)
- Budiman Bayu Prasojo (Kepala Seksi Intelijen Cukai Bea Cukai)
- Gatot Heroe Hernanda (Kepala Kantor Bea Cukai Kediri)
Di sisi lain, tantangan besar juga datang dari sektor pengawasan barang ilegal. Kanwil DJBC Jakarta melaporkan adanya lonjakan drastis peredaran rokok ilegal yang mengancam stabilitas fiskal negara. Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jakarta, Hendri Darnadi, menyatakan bahwa situasi ini telah mencapai tahap permasalahan yang sangat serius.
Data menunjukkan peningkatan aktivitas perdagangan ilegal yang masif sepanjang tahun 2026. Berikut adalah ringkasan data penindakan bidang cukai di wilayah Jakarta:
| Jenis Komoditas | Jumlah Penindakan | Nilai Kerugian/Nilai Barang |
|---|---|---|
| Rokok Ilegal | 59 Juta Batang | Rp 46,79 Miliar |
| MMEA (Minuman Beralkohol) | 12.093 Liter | – |
| Etil Alkohol | 5.300 Liter | – |
| Total Nilai Barang Cukai | – | Rp 83,39 Miliar |
Hendri menekankan bahwa jumlah rokok ilegal yang ditindak meningkat sekitar 257% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. Hal ini menandakan bahwa meskipun pengawasan di direktorat jenderal bea dan cukai terus diperketat, peredaran barang ilegal tetap tumbuh secara signifikan. Selain merugikan penerimaan negara dari sektor cukai, fenomena ini juga menciptakan iklim persaingan usaha yang tidak sehat di masyarakat.
Kombinasi antara skandal integritas di level pimpinan dan masifnya peredaran barang ilegal ini menjadi rapor merah bagi kinerja pengawasan di direktorat jenderal bea dan cukai. Masyarakat kini menanti langkah tegas pemerintah untuk membersihkan institusi ini dari praktik korupsi sekaligus memperkuat benteng pertahanan fiskal negara dari ancaman barang-barang ilegal.



Post Comment