Kabar YPU – 09 September 2026 | Publik tengah diramaikan oleh perdebatan hangat mengenai penerbitan buku islam ala prabowo yang memicu berbagai tafsir di tengah masyarakat. Buku setebal lebih dari 330 halaman tersebut, yang secara lengkap berjudul ‘Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam’, menjadi pusat perhatian setelah dianggap memunculkan persepsi baru mengenai cara pandang keagamaan sang Presiden. Sorotan tajam muncul tidak hanya pada substansi isinya, tetapi juga pada keterlibatan tokoh-tokoh penting serta penggunaan dana dalam proses penerbitannya.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, secara tegas membantah tudingan bahwa dirinya adalah penulis atau pihak yang menentukan judul buku tersebut. Meskipun namanya tercantum sebagai salah satu penyumbang naskah, Yusril mengklarifikasi bahwa perannya sangat terbatas. Ia menjelaskan bahwa dirinya hanya diwawancarai oleh tim penyusun sebelum ia menjabat sebagai menteri.
“Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya. Setelah wawancara selesai, saya tidak pernah melihat transkrip maupun naskah hasil wawancara sampai buku tersebut diterbitkan,” ujar Yusril dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (8/9/2026). Ia juga menambahkan bahwa ia tidak terlibat dalam proses penggagasan, penentuan judul, maupun pembiayaan penerbitan. Yusril menyayangkan judul islam ala prabowo yang dinilai terlalu sensitif dan dapat memicu salah paham, mengingat kebiasaan masyarakat yang cenderung menilai buku hanya dari judulnya tanpa membaca isi secara utuh. Menurutnya, judul ‘Prabowo dan Islam’ akan jauh lebih netral dan mudah dipahami.
Di sisi lain, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, Sodik Mudjahid, turut memberikan klarifikasi untuk meredam spekulasi mengenai penggunaan dana umat. Sodik menegaskan bahwa pembuatan dan penerbitan buku islam ala prabowo sama sekali tidak menggunakan dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Keterlibatan Baznas dalam peluncuran buku tersebut, yang dilakukan pada rangkaian Rakornas Baznas 2025, hanyalah dalam konteks sinergi kelembagaan dan literasi dakwah keagamaan.
“Kepercayaan Bapak dan Ibu untuk mempercayakan ZIS melalui Baznas adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar yang senantiasa kami jaga. Kami harus menjelaskan secara terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai posisi kami,” tegas Sodik. Ia menjamin bahwa institusi yang dipimpinnya akan selalu menjaga amanah masyarakat dan memastikan dana ZIS digunakan sesuai peruntukannya.
Salah satu kontributor naskah dalam buku tersebut, KH Asep, mengungkapkan motivasi di balik tulisannya. Ia berharap agar Presiden dapat mengambil ibrah atau pelajaran dari kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal sangat tegas dalam memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. KH Asep mengaku sejak awal telah menyarankan agar panitia mengubah judul buku karena dianggap terlalu sensitif, namun saran tersebut tidak diindahkan oleh tim penyusun.
Berikut adalah ringkasan poin-poin utama terkait polemik buku tersebut:
- Status Penulis: Yusril Ihza Mahendra membantah sebagai penulis dan menegaskan hanya sebagai narasumber wawancara.
- Isu Pendanaan: Ketua Baznas memastikan tidak ada dana ZIS yang digunakan untuk penerbitan buku.
- Kritik Judul: Para kontributor dan narasumber menilai judul buku terlalu sensitif dan berpotensi menimbulkan tafsir yang keliru.
- Inisiasi: Buku ini disebut diinisiasi oleh Ahmad Muzani bersama KH Anwar Iskandar.
Secara keseluruhan, polemik mengenai islam ala prabowo ini menyoroti pentingnya ketelitian dalam pemilihan judul karya literasi agar tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Meskipun substansi pemikiran yang disampaikan oleh para narasumber dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, judul yang provokatif seringkali menjadi pemicu utama munculnya persepsi yang tidak sesuai dengan isi sebenarnya.

Leave a comment