Skip to content

Peneliti Australia mengungkap penurunan populasi dugong hingga 50 persen dalam satu dekade terakhir, menyoroti ancaman serius terhadap spesies laut yang sudah terancam punah

Peneliti Australia mengungkap penurunan populasi dugong hingga 50 persen dalam satu dekade terakhir, menyoroti ancaman serius terhadap spesies laut yang sudah terancam punah.

Survei Udara di Teluk Carpentaria Mengungkap Penurunan Dramatis

Peneliti Australia melakukan survei udara di Teluk Carpentaria pada tahun 2025, bekerja sama dengan ilmuwan dari Charles Darwin University dan kelompok penjaga lingkungan masyarakat adat. Hasilnya menunjukkan bahwa populasi dugong di wilayah tersebut menurun sebesar 50 persen dibandingkan perkiraan pada tahun 2007, ketika jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 1.000 individu. Temuan ini diungkapkan melalui laporan yang dikirimkan ke Australian Broadcasting Corporation.

Dinamika Dunia Pendidikan: Dari Krisis Keamanan hingga Transformasi Digital di Dalam Classroom
Baca juga:
Dinamika Dunia Pendidikan: Dari Krisis Keamanan hingga Transformasi Digital di Dalam Classroom

Survei udara tersebut memanfaatkan teknologi pemantauan satelit dan penginderaan jauh untuk mengidentifikasi area perairan yang sering dikunjungi oleh dugong. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis untuk menghitung densitas populasi dan distribusi geografis. Peneliti Australia mencatat bahwa perbedaan signifikan antara data 2007 dan 2025 menunjukkan penurunan yang cukup alarmis.

Peran Tim Resor Jembrana dan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia

Di sisi lain, pada 19 Juli 2025, Tim Resor Jembrana bersama tim dokter hewan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia melakukan nekropsi terhadap seekor dugong di Pantai Desa Perancak, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Nekropsi ini dilakukan untuk memeriksa kondisi kesehatan hewan tersebut dan mengidentifikasi potensi penyebab kematian. Meskipun kegiatan ini berada di wilayah Indonesia, temuan tersebut memberikan gambaran tentang kondisi dugong di wilayah lain di dunia.

Peristiwa nekropsi tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam upaya konservasi dugong. Peneliti Australia menyatakan bahwa data yang diperoleh dari berbagai wilayah, termasuk Indonesia, dapat membantu memahami pola migrasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi populasi dugong secara global.

Faktor Penyebab Penurunan Populasi

Peneliti Australia menyoroti beberapa faktor utama yang mungkin berkontribusi pada penurunan populasi dugong. Salah satu penyebab utama adalah degradasi habitat akibat aktivitas manusia, seperti pembangunan pesisir dan polusi laut. Selain itu, perburuan ilegal dan perdagangan tidak sah juga menjadi ancaman serius bagi spesies ini. Peneliti Australia menekankan bahwa kombinasi faktor-faktor tersebut dapat mempercepat kepunahan dugong jika tidak ditangani secara serius.

Seskab mengungkap rencana Presiden untuk mewujudkan pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi, target nasional
Baca juga:
Seskab mengungkap rencana Presiden untuk mewujudkan pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi, target nasional

Selain faktor eksternal, perubahan iklim juga mempengaruhi distribusi dan ketersediaan makanan bagi dugong. Perubahan suhu air laut dapat mengganggu pertumbuhan rumput laut, yang merupakan sumber utama makanan bagi dugong. Peneliti Australia menunjukkan bahwa penurunan populasi dugong di Teluk Carpentaria dapat mencerminkan dampak perubahan iklim yang lebih luas pada ekosistem laut.

Dampak Ekologis dan Sosial

Penurunan populasi dugong memiliki dampak ekologis yang signifikan. Dugong berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem mangrove dan terumbu karang dengan memakan rumput laut dan membantu sirkulasi nutrisi. Dengan berkurangnya jumlah dugong, terjadi peningkatan pertumbuhan rumput laut yang tidak terkendali, yang dapat mengganggu struktur ekosistem laut.

Dampak sosial juga tidak dapat diabaikan. Dugong merupakan bagian penting dari budaya dan ekonomi masyarakat pesisir. Banyak komunitas di Australia, Indonesia, dan negara lain mengandalkan pariwisata berbasis konservasi dugong. Penurunan populasi dapat mengurangi potensi pendapatan dari pariwisata, serta mengancam identitas budaya yang terkait dengan spesies ini.

Upaya Konservasi dan Kolaborasi Internasional

Peneliti Australia menekankan pentingnya upaya konservasi yang terkoordinasi. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat setempat menjadi kunci untuk melindungi dugong. Program pemantauan, penegakan hukum terhadap perburuan ilegal, serta pendidikan masyarakat tentang pentingnya menjaga habitat laut menjadi langkah awal yang penting.

Universitas Brawijaya luncurkan kurikulum inovatif yang mengintegrasikan muatan lokal budaya Yogyakarta demi memperkaya pendidikan mahasiswa
Baca juga:
Universitas Brawijaya luncurkan kurikulum inovatif yang mengintegrasikan muatan lokal budaya Yogyakarta demi memperkaya pendidikan mahasiswa

Selain itu, peneliti Australia mengajak komunitas internasional untuk memperkuat jaringan kerja sama dalam penelitian dan konservasi dugong. Penggunaan teknologi canggih, seperti pemantauan satelit dan analisis data besar, dapat mempercepat identifikasi daerah kritis dan memfasilitasi tindakan konservasi yang lebih tepat.

Kesimpulan

Peneliti Australia telah menegaskan bahwa penurunan populasi dugong hingga 50 persen dalam satu dekade terakhir menandakan ancaman serius bagi spesies ini. Melalui survei udara dan kolaborasi lintas negara, data yang diperoleh menunjukkan perlunya tindakan cepat dan terkoordinasi. Melindungi dugong bukan hanya tentang menjaga satu spesies, tetapi juga tentang melestarikan kesehatan ekosistem laut dan kesejahteraan komunitas pesisir yang bergantung padanya.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan