Skip to content

Kumur‑kumur setelah sikat gigi: Benarkah tidak dianjurkan? Dokter gigi menjelaskan risiko dan manfaat praktik tersebut bagi kesehatan mulut Anda

Kumur‑kumur setelah sikat gigi sering dianggap sebagai ritual kebersihan mulut yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari‑hari di Indonesia. Meskipun begitu, praktik ini menimbulkan perdebatan di kalangan profesional kesehatan gigi, terutama terkait dampak pada efektivitas pasta gigi yang mengandung fluoride.

Pengalaman Praktisi: Drg Kurnia Dwi Wulan Menjelaskan

Drg Kurnia Dwi Wulan, praktisi gigi di Mayapada Dental Care (MDC) Jakarta Timur, mengungkapkan bahwa kebiasaan berkumur terlalu kuat setelah menyikat gigi dapat mengurangi manfaat fluoride. Menurut beliau, “kebanyakan orang Indonesia cenderung habis sikat gigi, karena ada bekas odol, jadi ngerasanya kayaknya keset banget nih rongga mulutnya, kayak sabunan gitu. Jadi kumur‑kumurnya tuh terlalu keras.”

BMKG mengumumkan sepuluh wilayah terpanas di Indonesia pada awal September, berikut daftar lengkap daerah yang mencatat suhu tertinggi bulan ini
Baca juga:
BMKG mengumumkan sepuluh wilayah terpanas di Indonesia pada awal September, berikut daftar lengkap daerah yang mencatat suhu tertinggi bulan ini

Drg Kurnia menekankan bahwa pasta gigi tidak hanya bersifat mekanis, melainkan juga kimia. Fluoride, komponen utama, bertindak sebagai pelindung lapisan gigi. Ketika berkumur secara agresif, fluoride yang seharusnya menempel di enamel gigi justru terbilas bersama air dan tidak memiliki waktu menempel secara optimal.

Proses Kerja Fluoride dalam Pasta Gigi

Fluoride pada pasta gigi bekerja mirip dengan aplikasi topikal fluoride di klinik, namun dengan konsentrasi yang lebih rendah, biasanya diukur dalam parts per million (ppm). Proses ini memerlukan waktu agar fluoride dapat menempel dan meresap ke dalam lapisan enamel gigi. Jika air mengalir terlalu cepat atau kuat, partikel fluoride tidak dapat menempel dengan baik, sehingga efektivitas perlindungan berkurang.

Selain itu, fluoride berperan dalam memperkuat struktur enamel dan mencegah kerusakan akibat asam. Ketika fluoride terbuang sebelum menempel, gigi menjadi lebih rentan terhadap erosi dan karies.

Perbandingan Kebiasaan di Indonesia

Di Indonesia, kebiasaan berkumur setelah menyikat gigi biasanya dilakukan dengan intensitas tinggi. Banyak yang merasa “kurang afdal” jika belum berkumur sampai rongga mulut terasa benar-benar bersih. Praktik ini sering kali melibatkan penggunaan air bersih atau obat kumur, namun dengan gerakan kuat yang tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang fungsi fluoride.

BPOM resmi mengizinkan edar vaksin diare rotavirus Bio‑RV, dengan dosis pertama yang dapat diberikan sejak bayi baru lahir
Baca juga:
BPOM resmi mengizinkan edar vaksin diare rotavirus Bio‑RV, dengan dosis pertama yang dapat diberikan sejak bayi baru lahir

Hal ini berlawanan dengan pedoman medis yang menyarankan untuk menolak air berkumur terlalu keras. Sehingga, meskipun tampak membersihkan, praktik tersebut justru dapat menghilangkan lapisan pelindung yang telah disiapkan oleh pasta gigi.

Dampak Jangka Panjang pada Kesehatan Mulut

Jika rutin berkumur terlalu kuat, risiko kerusakan enamel meningkat. Enamel yang melemah lebih mudah terpengaruh oleh asam dari makanan dan minuman. Akibatnya, muncul karies lebih cepat. Selain itu, kerusakan enamel dapat menyebabkan sensitivitas gigi dan peningkatan risiko infeksi pada jaringan lunak di sekitar gigi.

Selain kerusakan enamel, berkumur dengan kuat juga dapat memicu iritasi pada gusi. Gusi yang teriritasi berpotensi berkembang menjadi peradangan, yang bila tidak diobati dapat menimbulkan penyakit periodontal.

Alternatif Praktik yang Disarankan

Untuk memaksimalkan manfaat fluoride, disarankan agar setelah menyikat gigi, pelihara sisa pasta gigi di mulut selama satu sampai dua menit sebelum berkumur. Jika ingin berkumur, gunakan air bersih dengan gerakan lembut, atau tidak berkumur sama sekali. Cara ini memungkinkan fluoride menempel dan meresap lebih baik.

Pakar IDAI Angkat Bicara soal Risiko Hilangnya Ingatan Akibat Keracunan MBG, Apa Kata Mereka?
Baca juga:
Pakar IDAI Angkat Bicara soal Risiko Hilangnya Ingatan Akibat Keracunan MBG, Apa Kata Mereka?

Selain itu, penggunaan pasta gigi dengan konsentrasi fluoride yang sesuai dan rutin memeriksakan kesehatan gigi ke dokter gigi dapat membantu menjaga enamel tetap kuat dan mencegah karies. Kombinasi kebersihan oral yang tepat dan pengawasan profesional menjadi kunci utama.

Kesimpulan: Menyeimbangkan Kebiasaan dan Ilmu Kesehatan

Kumur‑kumur setelah sikat gigi memang menjadi kebiasaan yang banyak dilakukan, namun penting untuk memahami bahwa praktik ini dapat mengurangi efektivitas fluoride. Dengan menyesuaikan kebiasaan berkumur menjadi lebih lembut, atau bahkan menunda hingga beberapa menit setelah menyikat, kita dapat memaksimalkan perlindungan enamel dan mengurangi risiko kerusakan gigi.

Penggunaan fluoride tetap menjadi komponen penting dalam menjaga kesehatan gigi. Oleh karena itu, penyesuaian kebiasaan berkumur dapat menjadi langkah sederhana namun signifikan dalam menjaga kebersihan mulut dan mencegah masalah gigi di masa depan.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan