Skip to content

Kehilangan Intelektual Bangsa: Airlangga Pribadi Kusman, Sang Pembedah Demokrasi yang Berpulang

Kehilangan Intelektual Bangsa: Airlangga Pribadi Kusman, Sang Pembedah Demokrasi yang Berpulang
Kehilangan Intelektual Bangsa: Airlangga Pribadi Kusman, Sang Pembedah Demokrasi yang Berpulang

Kabar YPU – 09 September 2026 | Dunia akademik dan lanskap politik Indonesia tengah diselimuti duka mendalam atas berpulangnya airlangga pribadi kusman, seorang akademisi sekaligus pengamat politik terkemuka dari Universitas Airlangga (Unair). Sosok yang dikenal sebagai intelektual kritis ini mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 9 September 2026, pukul 13.35 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Kepergiannya di usia yang masih tergolong muda, yakni 49 tahun, meninggalkan lubang besar dalam dunia pemikiran politik tanah air.

Peristiwa tragis ini terjadi saat almarhum tengah berada di Jakarta untuk rangkaian kegiatan diskusi dan seminar buku. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum kejadian, almarhum sempat berada di sebuah kafe di kawasan Gambir untuk bertemu beberapa tokoh. Namun, secara tiba-tiba almarhum jatuh pingsan. Setelah segera dilarikan ke unit ICU RSPAD Gatot Soebroto, tim medis mendapati adanya serangan tekanan darah tinggi yang sangat ekstrem, mencapai angka 240, sebelum akhirnya almarhum dinyatakan meninggal dunia.

Dinamika Pemerintahan Era Prabowo: Dari Pelantikan Pejabat Strategis hingga Sorotan Terhadap Gibran Rakabuming Raka
Baca juga:
Dinamika Pemerintahan Era Prabowo: Dari Pelantikan Pejabat Strategis hingga Sorotan Terhadap Gibran Rakabuming Raka

Rekam Jejak Akademik dan Pengabdian

Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 23 November 1976, airlangga pribadi memiliki perjalanan intelektual yang sangat mumpuni. Ia merupakan lulusan Ilmu Politik Universitas Airlangga, melanjutkan studi Magister di Universitas Indonesia, dan meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) dalam bidang Politik dari Murdoch University, Australia, pada tahun 2016. Kepulangannya ke tanah air menjadi berkah bagi Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga, tempat ia mengabdikan diri sejak tahun 2004.

Selama masa baktinya, almarhum memegang berbagai posisi strategis di kampus, antara lain:

  • Ketua Program Studi S2 Ilmu Politik FISIP Unair
  • Kepala Pascasarjana Departemen Politik FISIP Unair
  • Pemimpin Centre for Governance and Citizenship Studies (CGCS)

Rektor Universitas Airlangga, Prof. Dr. Muhammad Madyan, menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Ia mengenang airlangga pribadi sebagai dosen yang memiliki dedikasi luar biasa tinggi dalam menjalankan tugas-tugas akademiknya serta sosok pendidik yang sangat berkomitmen. Bagi civitas akademika, ia bukan sekadar pengajar, melainkan mentor yang membawa teori politik keluar dari ruang kelas menuju realitas sosial.

Refleksi Negarawan: Susilo Bambang Yudhoyono Soroti Menurunnya Demokrasi dan Esensi Kepemimpinan Bangsa
Baca juga:
Refleksi Negarawan: Susilo Bambang Yudhoyono Soroti Menurunnya Demokrasi dan Esensi Kepemimpinan Bangsa

Pemikiran Kritis dan Kontribusi Nasional

Sebagai seorang intelektual, almarhum tidak pernah membatasi dirinya hanya pada jurnal akademik. Ia dikenal sebagai pengamat yang berani membedah dinamika kekuasaan di Indonesia. Salah satu karya monumentalnya adalah buku “The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era” yang diterbitkan oleh Palgrave Macmillan pada 2019. Dalam karya tersebut, ia mengkritisi bagaimana struktur kekuasaan lama bertransformasi dan beradaptasi dalam sistem demokrasi elektoral pasca-Orde Baru.

Selain itu, kontribusi airlangga pribadi juga meluas ke ranah kebijakan publik dan lembaga negara. Ia pernah mengemban amanah sebagai:

  1. Staf Ahli Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).
  2. Anggota Tim Seleksi Calon Anggota KPU dan Bawaslu periode 2022–2027.

Beberapa karya literasi lainnya yang menjadi rujukan pemikiran kritisnya meliputi “Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia” (2022) serta karya terbarunya, “Marhenisme: Dalil Baru Untuk Gen Z”. Melalui tulisan-tulisannya, ia konsisten menyuarakan pentingnya penguatan masyarakat sipil, demokrasi, dan relasi yang sehat antara intelektual dengan kekuasaan.

Kebuntuan Politik Israel: Blok Netanyahu Gagal Raih Mayoritas, Isu Kecurangan Mulai Memanas
Baca juga:
Kebuntuan Politik Israel: Blok Netanyahu Gagal Raih Mayoritas, Isu Kecurangan Mulai Memanas

Kepergian seorang intelektual seperti airlangga pribadi kusman merupakan kehilangan bagi demokrasi Indonesia. Ia adalah representasi dari generasi akademisi yang percaya bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi alat untuk menguji kekuasaan dan mencari jalan menuju keadilan sosial. Meskipun raganya telah tiada, pemikiran-pemikirannya yang tajam akan tetap hidup dan menjadi kompas bagi generasi intelektual mendatang dalam menjaga marwah republik.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan