Kabar YPU – 07 September 2026 | Bencana banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet telah meninggalkan luka mendalam bagi ribuan orang. Namun, di tengah keputusasaan dan duka yang menyelimuti kawasan tersebut, sebuah kisah keajaiban muncul dari Desa Betrawati. Chandika Kumari Shrestha, seorang perempuan lanjut usia berusia 64 tahun, ditemukan dalam kondisi hidup setelah terjebak selama 10 hari di dalam reruntuhan rumahnya yang hancur diterjang arus deras.
Penemuan Shrestha terjadi dalam situasi yang sangat emosional. Saat itu, pihak keluarga tengah memulai ritual berkabung dan upacara pemakaman simbolis karena meyakini bahwa Shrestha telah meninggal dunia akibat bencana tersebut. Namun, tim penyelamat yang sedang melakukan pencarian di area yang tertimbun endapan material menyerupai beton, mendengar suara minta tolong dari balik puing-puing bangunan.
Petugas kepolisian Mahendra Darnal melaporkan bahwa Shrestha ditemukan di sebuah ruang sempit yang masih memiliki kantong udara di antara tumpukan lumpur dan material bangunan. Setelah operasi penyelamatan selama 45 menit, Shrestha berhasil dievakuasi dan segera diterbangkan ke rumah sakit militer di Kathmandu untuk mendapatkan perawatan intensif akibat luka parah pada kaki kanannya.
Tragedi ini telah mengakibatkan dampak yang sangat masif di seluruh wilayah. Berikut adalah ringkasan data korban dan situasi terkini berdasarkan laporan otoritas terkait:
| Kategori Informasi | Detail Data |
|---|---|
| Korban Tewas (Nepal) | Lebih dari 1.350 orang |
| Korban Hilang | Sekitar 5.000 orang |
| Korban Tewas (Cina) | 43 orang |
| Korban Hilang (Cina) | 519 orang |
Selain kisah Shrestha, tim penyelamat juga mencatat beberapa keberhasilan evakuasi lainnya. Seorang warga negara China bernama Lu Haitao berhasil diselamatkan dari sebuah terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di distrik Rasuwa. Ia ditemukan oleh tim gabungan yang terdiri dari tentara Nepal dan spesialis bencana dari Korea Selatan. Selain itu, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun juga berhasil ditemukan selamat dan telah dipertemukan kembali dengan ibunya.
Kondisi geografis di wilayah terdampak sangat menantang. Banyak bangunan, termasuk pasar dan rumah tinggal berlantai empat, terkubur oleh endapan putih material banjir yang mengeras. Salah satu penyintas, Prakash Pandey, menceritakan bagaimana struktur rumahnya yang kokoh berkat fondasi yang diperkuat mampu bertahan dari terjangan banjir, meskipun bagian bawah bangunan tetap mengalami kerusakan parah akibat material yang terbawa arus.
Pemerintah Nepal telah menetapkan tanggal 7 September sebagai hari berkabung nasional untuk menghormati para korban jiwa. Bendera nasional dikibarkan setengah tiang di seluruh kantor pemerintah sebagai bentuk penghormatan terakhir. Sementara itu, pemerintah Cina mulai memberikan akses kepada media internasional untuk meliput wilayah terdampak di Kota Shigatse, Tibet, guna meningkatkan transparansi informasi terkait upaya penyelamatan di wilayah tersebut.
Meskipun harapan untuk menemukan korban selamat semakin menipis seiring dengan banyaknya jenazah yang ditemukan dalam kondisi membusuk, otoritas Nepal dan tim internasional tetap melanjutkan pencarian secara intensif. Fokus pencarian kini diarahkan pada terowongan-terowongan dan bangunan yang tertimbun lumpur tebal, dengan harapan masih ada korban lain yang berhasil bertahan hidup dari amukan banjir bandang ini.

Leave a comment