Kabar YPU – 25 Agustus 2026 | Dunia pasar modal Indonesia tengah menjadi sorotan setelah pengumuman terbaru dari penyedia indeks global, FTSE Russell. Kabar mengejutkan datang bagi para investor yang mengikuti pergerakan sang investor legendaris, lo kheng hong, karena sejumlah saham yang masuk dalam portofolionya dipastikan keluar dari FTSE Global Equity Index Series untuk periode September 2026. Langkah koreksi indeks ini membawa dampak langsung pada beberapa emiten yang selama ini menjadi bagian dari strategi investasi pria tersebut.
Berdasarkan hasil tinjauan semi-tahunan (semi-annual review) yang dirilis oleh FTSE Russell, terdapat total 29 saham yang harus keluar dari indeks tersebut. Menariknya, mayoritas perubahan signifikan terjadi pada indeks micro cap, di mana sebanyak 28 konstituen dinyatakan keluar. Hal ini memberikan tekanan tersendiri bagi emiten-emiten berskala kecil dan menengah yang selama ini menjadi incaran para investor nilai (value investor).
Dari sekian banyak saham yang terdampak, terdapat lima emiten yang tercatat sebagai koleksi milik lo kheng hong yang kini resmi didepak dari indeks FTSE Micro Cap per Jumat, 21 Agustus 2026. Berikut adalah rincian emiten tersebut beserta besaran kepemilikan saham yang dimiliki oleh sang investor:
| Kode Emiten | Nama Perusahaan | Kepemilikan Saham (%) |
|---|---|---|
| CFIN | PT Clipan Finance Indonesia Tbk | 2,19% |
| DILD | PT Intiland Development Tbk | 7,43% |
| MAIN | PT Malindo Feedmill Tbk | 1,24% |
| PNIN | PT Panin Insurance Tbk | 1,23% |
| RALS | PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk | 2,94% |
Pasca pengumuman tersebut, pergerakan harga saham-saham koleksi lo kheng hong menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Sebagian besar emiten tersebut terpantau berada di zona merah atau mengalami koreksi harga. Sebagai contoh, saham CFIN turun 1,12% ke level Rp 354, DILD terkoreksi 0,83% ke Rp 119, dan MAIN melemah 1,48% menjadi Rp 665. Sementara itu, RALS cenderung stagnan di level Rp 382. Namun, tidak semua saham bergerak negatif; saham PNIN justru menunjukkan performa impresif dengan melesat 4,96% ke posisi Rp 740 per saham.
Selain kelima saham yang didepak dari indeks micro cap tersebut, lo kheng hong tercatat masih memegang posisi strategis di sejumlah emiten lain dengan kepemilikan di atas 1%. Beberapa di antaranya meliputi:
- PT ABM Investama Tbk (ABMM)
- PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG)
- PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST)
- PT Global Mediacom Tbk (BMTR)
- PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL)
- PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)
- PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP)
- PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL)
Perubahan dalam indeks FTSE ini juga memicu pergeseran klasifikasi pada emiten besar lainnya. Meskipun FTSE tidak melakukan perubahan pada indeks large cap, saham sektor properti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mengalami penurunan kelas dari indeks mid cap menjadi micro cap. Fenomena ini menunjukkan adanya dinamika kapitalisasi pasar yang sedang berlangsung di bursa tanah air.
Secara keseluruhan, keluarnya saham-saham pilihan investor kawakan ini dari indeks global menunjukkan adanya restrukturisasi portofolio indeks yang dilakukan oleh FTSE Russell. Bagi investor ritel, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya memantau perubahan komposisi indeks global yang seringkali memicu aliran dana keluar-masuk (flow) dari manajer investasi asing, yang pada akhirnya memengaruhi likuiditas dan harga saham di pasar domestik.

Leave a comment