Skip to content

SMA Sedayu Perkenalkan Pendidikan Khas Kejogjaan Nilai “NGAJENI” kepada Murid untuk Tingkatkan Kemandirian dan Etos Kerja

Pendidikan Khas Kejogjaan menjadi sorotan utama di SMA Negeri 1 Sedayu setelah sekolah tersebut mengumumkan program baru yang menekankan nilai “NGAJENI” kepada seluruh murid. Pengenalan konsep ini dilakukan melalui kegiatan Literasi Kampus di lapangan basket, yang dihadiri oleh 972 siswa kelas X hingga XII pada Rabu, 12 Agustus 2026. Program ini dirancang sebagai upaya konkret memperkuat karakter siswa sekaligus melestarikan budaya Jawa di lingkungan sekolah.

Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di Lapangan Basket

Acara Literasi Kampus dimulai pukul 10.00 WIB di lapangan basket SMA Sedayu. Mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta bekerja sama dengan guru Bahasa Jawa SMA Sedayu memimpin sesi sosialisasi. Mereka menjelaskan arti dan tujuan Pendidikan Khas Kejogjaan, serta bagaimana nilai “NGAJENI” dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Sejumlah demonstrasi praktis, seperti cara mengangkat tangan dengan sopan (ngapurancang) dan cara menyapa dengan jempol, dilakukan untuk memperkuat pemahaman siswa.

Siswa MAN IC Pekalongan mengukir prestasi dengan empat medali dan honorable mention di OSN 2026, bukti kecemerlangan akademik
Baca juga:
Siswa MAN IC Pekalongan mengukir prestasi dengan empat medali dan honorable mention di OSN 2026, bukti kecemerlangan akademik

Selama acara, para peserta diundang untuk berpartisipasi aktif dalam latihan tatakrama, mulai dari menyapa guru dengan “nuju sewu” hingga mengucapkan “matur nuwun” setelah menerima bantuan. Praktik ini tidak hanya memperlihatkan nilai “NGAJENI” secara visual, tetapi juga menanamkan rasa hormat dan tanggung jawab sosial di antara siswa. Dengan jumlah peserta hampir seribu, dampak kegiatan ini diharapkan meluas ke seluruh komunitas sekolah.

Nilai “NGAJENI” dan Tujuh Pembiasaan Santun

Istilah “NGAJENI” merujuk pada kumpulan tujuh pembiasaan santun yang bertujuan melestarikan budaya Jawa. Pembiasaan tersebut meliputi: ngapurancang, jempol, nuwun sewu (ndherek langkung), nyuwun pangapunten, matur nuwun, mangga, dan injih. Setiap elemen memiliki makna mendalam dalam konteks kebudayaan lokal. Misalnya, ngapurancang mengajarkan siswa untuk siap dan sopan sebelum memulai aktivitas, sementara jempol menjadi simbol apresiasi sederhana namun bermakna.

Penggunaan nuwun sewu dan nyuwun pangapunten menekankan pentingnya rasa hormat dan penyesalan ketika melakukan kesalahan, sedangkan matur nuwun menegaskan rasa syukur atas bantuan yang diterima. Mangga dan injih, yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari, menambah nuansa keakraban dan kesopanan dalam interaksi antar siswa.

Hubungan dengan Kebijakan Gubernur DIY

Program ini juga sejalan dengan arahan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengenai penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan di seluruh jenjang sekolah mulai tahun ajaran 2026/2027. Dengan menanamkan nilai “NGAJENI” sejak dini, SMA Sedayu menjadi contoh bagi sekolah lain di provinsi ini untuk mengintegrasikan budaya lokal ke dalam kurikulum. Hal ini diharapkan dapat memperkuat identitas kebangsaan dan mempererat rasa kebersamaan di antara generasi muda.

Menaker: Mahasiswa wajib kuasai kompetensi teknis dan human skills untuk siap bersaing di industri modern yang terus berubah
Baca juga:
Menaker: Mahasiswa wajib kuasai kompetensi teknis dan human skills untuk siap bersaing di industri modern yang terus berubah

Dampak Pendidikan Khas Kejogjaan terhadap Karakter Murid

Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan diharapkan memiliki dampak positif pada kemandirian dan etos kerja siswa. Melalui latihan tatakrama yang konsisten, siswa belajar untuk bertindak secara mandiri dan bertanggung jawab. Misalnya, ketika siswa mengangkat tangan dengan sopan sebelum bertanya, mereka menunjukkan kesiapan dan rasa hormat terhadap guru. Praktik ini tidak hanya meningkatkan disiplin, tetapi juga membangun rasa percaya diri dalam berinteraksi di lingkungan sekolah.

Selain itu, nilai “NGAJENI” menumbuhkan etos kerja yang kuat. Siswa yang terbiasa mengucapkan “matur nuwun” setelah menyelesaikan tugas akan lebih menghargai proses kerja dan hasilnya. Sikap ini memotivasi mereka untuk terus meningkatkan kualitas kerja, baik dalam tugas akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian, Pendidikan Khas Kejogjaan berkontribusi pada pembentukan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter kuat.

Peran Mahasiswa Praktik Kependidikan dan Guru Bahasa Jawa

Kerja sama antara mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta dan guru Bahasa Jawa SMA Sedayu menjadi kunci keberhasilan program ini. Mahasiswa memberikan perspektif pedagogis yang fresh, sementara guru membawa pengalaman langsung dalam mengajar bahasa Jawa. Kombinasi ini memungkinkan materi disampaikan secara interaktif dan relevan, sehingga siswa lebih mudah memahami dan menginternalisasi nilai “NGAJENI”.

Selama sesi, para mahasiswa dan guru juga mengajukan contoh situasi nyata di mana siswa dapat menerapkan nilai tersebut. Misalnya, ketika siswa harus memohon izin keluar kelas, mereka diajarkan untuk menggunakan “nyuwun pangapunten” sebelum meminta izin. Latihan semacam ini menanamkan kebiasaan positif yang dapat bertahan hingga masa dewasa.

Menakar Peran Strategis LPDP: Dari Pemerataan Akses Pendidikan hingga Pencetak SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045
Baca juga:
Menakar Peran Strategis LPDP: Dari Pemerataan Akses Pendidikan hingga Pencetak SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

Visi Jangka Panjang SMA Sedayu

SMA Negeri 1 Sedayu menegaskan bahwa penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan bukan sekadar program sementara, melainkan bagian integral dari visi jangka panjang sekolah. Sekolah berencana untuk meninjau dan menyesuaikan kurikulum agar lebih menekankan nilai budaya lokal, sekaligus mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas. Dengan demikian, siswa akan menjadi agen perubahan yang mampu menggabungkan nilai tradisional dengan pengetahuan modern.

Kesimpulan

Pengenalan Pendidikan Khas Kejogjaan dan nilai “NGAJENI” di SMA Negeri 1 Sedayu menandai langkah berani dalam memperkuat karakter siswa dan melestarikan budaya lokal. Melalui kegiatan Literasi Kampus di lapangan basket, siswa tidak hanya belajar tatakrama, tetapi juga mengembangkan kemandirian dan etos kerja yang kuat. Dukungan kolaboratif antara mahasiswa Praktik Kependidikan, guru Bahasa Jawa, dan kebijakan pemerintah daerah menegaskan komitmen bersama untuk mencetak generasi yang berbudaya, mandiri, dan beretika. Dengan implementasi yang konsisten, SMA Sedayu diharapkan menjadi contoh bagi

Leave a comment

Tinggalkan Balasan