Kabar YPU – 05 September 2026 | Kompetisi BRI Super League musim 2026/2027 baru saja bergulir, namun drama di luar lapangan mulai menyita perhatian publik sepak bola tanah air. Salah satu pertandingan yang menjadi sorotan utama adalah laga perdana antara arema fc vs adhyaksa (yang kini bertransformasi menjadi Isenmulang Kalteng FC). Tidak hanya harus menelan kekalahan telak di lapangan hijau, Isenmulang Kalteng FC kini harus menghadapi kenyataan pahit berupa sanksi pengurangan poin dari regulator liga.
Pada pertandingan pembuka yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jumat (4/9/2026), Isenmulang Kalteng FC tampil tidak berdaya saat menghadapi kekuatan tuan rumah. Dalam duel arema fc vs adhyaksa tersebut, Singo Edan langsung tancap gas sejak menit awal. Johan Alfarizi membuka keunggulan Arema FC pada menit ke-6, disusul gol Diego Landis pada menit ke-14. Sebelum babak pertama usai, Marcos Vinicius menambah penderitaan tim tamu lewat golnya pada masa injury time (45+6′). Di babak kedua, Mauro Zijlstra menyempurnakan dominasi Arema FC dengan gol pada menit ke-85, menutup laga dengan skor telak 4-0.
Namun, penderitaan Isenmulang Kalteng FC tidak berhenti di situ. Tak lama setelah laga arema fc vs adhyaksa berakhir, kabar mengejutkan datang dari I.League. Dua klub, yakni Isenmulang Kalteng FC dan Java United FC, dijatuhi sanksi pengurangan dua poin. Sanksi ini bukan disebabkan oleh hasil pertandingan, melainkan pelanggaran terhadap regulasi Club Licensing.
Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, menjelaskan bahwa sanksi ini merupakan konsekuensi logis dari perubahan basis wilayah atau stadion kandang yang dilakukan setelah siklus lisensi klub periode 2025/2026 selesai. Berikut adalah rincian penyebab sanksi tersebut:
- Perubahan Home Base: Isenmulang Kalteng FC melakukan migrasi identitas dan basis wilayah dari Banten (sebelumnya Adhyaksa FC) ke Kalimantan Tengah dengan menggunakan Stadion Tuah Pahoe.
- Ketidaksesuaian Infrastruktur: Perubahan lokasi setelah proses Club Licensing Cycle selesai menyebabkan beberapa kriteria infrastruktur yang telah ditetapkan sebelumnya tidak lagi terpenuhi.
- Kepatuhan Regulasi: I.League menegaskan bahwa setiap klub wajib memenuhi standar yang telah disepakati demi menjaga integritas kompetisi.
Menanggapi polemik ini, Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menegaskan bahwa keputusan ini bukanlah hal yang mendadak atau bersifat bombastis. Menurutnya, peringatan mengenai konsekuensi perubahan basis wilayah telah disampaikan kepada klub-klub terkait jauh sebelumnya. Ia juga menekankan bahwa sistem Club Licensing ini merupakan standar yang didukung penuh oleh AFC (Asian Football Confederation).
Situasi ini menempatkan Isenmulang Kalteng FC dalam posisi yang sangat sulit di awal musim. Setelah kehilangan empat gol dalam laga arema fc vs adhyaksa, mereka kini harus memulai perjalanan di klasemen dengan angka minus dua. Hal ini memaksa tim asuhan Mundari Karya untuk bekerja ekstra keras guna mengejar ketertinggalan poin agar tidak terperosok ke zona degradasi sejak dini.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh klub peserta Super League 2026/2027 bahwa kepatuhan terhadap regulasi administratif sama pentingnya dengan performa di atas lapangan. Integritas kompetisi sangat bergantung pada konsistensi klub dalam memenuhi standar infrastruktur dan lisensi yang telah ditetapkan oleh federasi.

Leave a comment