Skip to content

Strategi Danantara Selamatkan Industri Tekstil: Akusisi Sritex atau Bangun BUMN Baru?

Strategi Danantara Selamatkan Industri Tekstil: Akusisi Sritex atau Bangun BUMN Baru?
Strategi Danantara Selamatkan Industri Tekstil: Akusisi Sritex atau Bangun BUMN Baru?

Kabar YPU – 31 Oktober 2026 | Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia tengah menyusun langkah strategis untuk memperkuat ketahanan industri tekstil nasional, di mana nama raksasa tekstil sritex kini masuk dalam radar evaluasi serius. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengonsolidasikan sektor industri padat karya guna menciptakan lapangan kerja yang masif bagi ratusan juta penduduk Indonesia.

Dalam rangkaian Danantara Technology Innovation & Investment Forum (DTIIF) 2026 yang digelar di Jakarta, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa fokus utama Danantara adalah melakukan transformasi besar-besaran melalui investasi jangka panjang dan pengembangan industri strategis. Salah satu sektor yang menjadi prioritas adalah tekstil, yang dinilai memiliki dampak sosial ekonomi yang sangat signifikan.

Berdasarkan survei terbaru, semua analis sepakat bahwa prediksi Harga Emas Naik akan terwujud dalam beberapa bulan ke depan, menandai tren pasar yang penting
Baca juga:
Berdasarkan survei terbaru, semua analis sepakat bahwa prediksi Harga Emas Naik akan terwujud dalam beberapa bulan ke depan, menandai tren pasar yang penting

Opsi Penyelamatan Industri: Akuisisi vs Membangun dari Nol

Danantara tengah mempertimbangkan dua skema utama dalam merespons tantangan di sektor tekstil. Skema pertama adalah melakukan akuisisi terhadap perusahaan yang sudah beroperasi namun sedang mengalami kesulitan bisnis. Hal ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan produksi dan mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Dalam konteks ini, sritex disebut sebagai salah satu kandidat yang sedang dikaji. Dony menjelaskan bahwa jika perusahaan seperti sritex mengalami dampak kegagalan bisnis yang berujung pada pengurangan karyawan besar-besaran, maka negara melalui Danantara harus hadir untuk menyelamatkan aset tersebut. Namun, penyelamatan ini tidak sekadar mempertahankan aset, melainkan melakukan perbaikan menyeluruh pada model bisnis agar perusahaan dapat beroperasi secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Suahasil Nazara Resmi Lantik Empat Belas Pejabat Baru, Mengukir Langkah Strategis dalam Pemerintahan
Baca juga:
Suahasil Nazara Resmi Lantik Empat Belas Pejabat Baru, Mengukir Langkah Strategis dalam Pemerintahan

Opsi kedua adalah membangun BUMN tekstil baru dari nol. Strategi ini memungkinkan pemerintah untuk merancang ekosistem industri yang terintegrasi secara lengkap, mulai dari sektor hulu (upstream), menengah (midstream), hingga hilir (downstream). Dengan menguasai seluruh rantai produksi, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar bagi produk asing, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai pasok global.

Strategi Tujuan Utama Fokus Operasional
Akuisisi Perusahaan Eksisting Penyelamatan tenaga kerja dan aset Perbaikan model bisnis dan restrukturisasi
Pembangunan BUMN Baru Kemandirian industri nasional Integrasi hulu ke hilir (end-to-end)

Transformasi BUMN dan Potensi Deep Tech

Selain sektor tekstil, Danantara juga menekankan pentingnya integrasi teknologi dalam industri strategis. Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, menegaskan bahwa penguatan industri harus mencakup desain, riset dan pengembangan (R&D), hingga produksi massal. Hal ini sejalan dengan visi Dirjen Riset dan Pengembangan (Risbang), Fauzan Adziman, yang menyatakan bahwa teknologi berbasis riset mendalam atau deep tech memiliki potensi untuk melahirkan perusahaan unicorn lebih cepat dibandingkan teknologi konvensional.

Dilema Pasar Properti Eropa: Antara Kecepatan Penjualan Kilat dan Kontroversi Labeling Ilegal
Baca juga:
Dilema Pasar Properti Eropa: Antara Kecepatan Penjualan Kilat dan Kontroversi Labeling Ilegal

Sebagai gambaran, data menunjukkan bahwa perusahaan deep tech di Eropa rata-rata hanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun tujuh bulan untuk mencapai status unicorn, sementara perusahaan teknologi konvensional membutuhkan waktu hampir delapan tahun. Dengan menggabungkan kekuatan industri tekstil melalui skema seperti yang direncanakan untuk sritex dengan pemanfaatan teknologi mutakhir, Indonesia berpeluang besar meningkatkan nilai tambah produk nasional di kancah internasional.

Saat ini, Danantara terus melakukan evaluasi mendalam terhadap berbagai peluang investasi. Keputusan final mengenai apakah akan mengakuisisi sritex atau memilih jalur pembangunan pabrik baru akan sangat bergantung pada hasil kajian kebutuhan industri dan dampak ekonominya bagi masyarakat luas. Langkah berani ini diharapkan menjadi titik balik bagi kebangkitan industri manufaktur Indonesia di masa depan.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan