Skip to content

Drama Bundaran HI: Taktik ‘Kuda Troya’ Mahasiswa hingga Uji Integritas di Balik Barikade Ketat

Drama Bundaran HI: Taktik 'Kuda Troya' Mahasiswa hingga Uji Integritas di Balik Barikade Ketat
Drama Bundaran HI: Taktik 'Kuda Troya' Mahasiswa hingga Uji Integritas di Balik Barikade Ketat

Kabar YPU – 31 Oktober 2026 | Aksi unjuk rasa bertajuk ‘Indonesia Sadar’ yang berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Rabu (28/10/2026), menyisakan berbagai catatan dramatis. Di tengah pengamanan ketat yang menerapkan barikade berlapis, massa aksi tidak hanya membawa tuntutan politik, tetapi juga melakukan manuver unik untuk menguji moralitas aparat keamanan di lapangan.

Ketegangan sempat memuncak ketika aparat keamanan menyiagakan empat lapis pasukan untuk membendung pergerakan massa. Berdasarkan pantauan di lokasi, lapisan pengamanan tersebut terdiri dari pasukan antihuru-hara dengan tameng dan pentungan, pasukan pengurai massa (Raimas) Brimob dengan kendaraan bermotor, pasukan Brimob berseragam putih, hingga satuan TNI. Penjagaan yang sangat ketat ini sempat memecah konsentrasi massa, di mana sebagian terpusat di Bundaran HI, sementara sebagian lainnya tertahan di sekitar Gedung UOB, Jalan Sudirman.

Kabar Gembira! Bansos Beras 30 Kg Kembali Cair Oktober-Desember 2026, Cek Kriteria Penerimanya di Sini
Baca juga:
Kabar Gembira! Bansos Beras 30 Kg Kembali Cair Oktober-Desember 2026, Cek Kriteria Penerimanya di Sini

Taktik ‘Kuda Troya’ dan Peran ‘Pilot Darat’

Menghadapi penjagaan yang masif, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mengungkapkan penggunaan strategi khusus yang mereka sebut sebagai taktik ‘Kuda Troya’. Strategi ini dirancang untuk memecah konsentrasi aparat melalui pergerakan massa dalam beberapa gelombang dari arah yang berbeda.

Namora Siahaan, Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI, menjelaskan bahwa armada bus sengaja dikerahkan terlebih dahulu ke kawasan Menara UOB untuk memancing fokus kepolisian. Saat perhatian aparat tertuju pada titik tersebut, rombongan lain bergerak secara senyap melalui jalur utara dan timur, termasuk memanfaatkan moda transportasi umum untuk menembus celah pengamanan.

Salah satu momen paling menegangkan melibatkan para pengemudi angkutan kota (angkot) trayek T19 yang bertindak sebagai ‘pilot darat’. Atur Santoso, salah satu sopir, menceritakan bagaimana ia harus mengantar rombongan mahasiswa menembus barikade polisi di persimpangan lampu merah dekat Halte Transjakarta MH Thamrin. Dalam situasi yang memanas, mahasiswa di dalam armada meminta sopir untuk terus melaju guna memecah barisan pengamanan agar rombongan bisa masuk ke titik aksi.

Misteri di Balik Aktivitas Gunung Anak Krakatau: Antara Erupsi yang Mereda dan Pencarian Delapan Orang Hilang
Baca juga:
Misteri di Balik Aktivitas Gunung Anak Krakatau: Antara Erupsi yang Mereda dan Pencarian Delapan Orang Hilang

Uji Integritas: Uang di Celah Tameng

Selain manuver fisik, mahasiswa juga melakukan aksi sindiran visual yang bertujuan menguji profesionalisme aparat. Di tengah suasana yang tegang, sejumlah mahasiswa mencoba menyelipkan lembaran uang tunai senilai Rp50.000 dan Rp100.000 ke dalam celah-celah tameng transparan yang disusun rapat oleh polisi.

Aksi ini memicu sorak-sorai massa, namun seketika berubah menjadi perdebatan sengit di media sosial setelah sebuah rekaman video viral. Dalam video tersebut, terlihat seorang oknum polisi diduga meraih dan mengambil uang Rp50.000 yang disodorkan ke arah barikade. Tindakan ini pun menjadi sorotan tajam publik sebagai bentuk ujian terhadap ketahanan moral petugas yang sedang menjalankan tugas negara.

Kecaman terhadap Kekerasan dan Kebijakan Pemerintah

Di sisi lain, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) melontarkan kritik keras terkait dinamika di lapangan. Saiful Wathoni, Sekjen PP AGRA, mengecam adanya tindakan kekerasan dan brutalitas yang dilakukan oleh oknum aparat terhadap peserta aksi. Ia menuntut agar pihak-pihak yang melakukan pemukulan dan instruksi pembubaran massa diproses secara hukum.

Perkuat Pertahanan Nasional, TNI Siapkan Peresmian 5 Kodam Baru di Berbagai Wilayah Strategis
Baca juga:
Perkuat Pertahanan Nasional, TNI Siapkan Peresmian 5 Kodam Baru di Berbagai Wilayah Strategis

Selain masalah pengamanan, aksi ini juga menjadi ajang protes terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Massa menilai kebijakan pemerintah saat ini cenderung mengabaikan kesejahteraan rakyat dan kurang responsif terhadap berbagai bencana nasional, mulai dari banjir di Sumatera hingga gempa bumi di NTT. Penjagaan barikade yang sangat ketat dinilai oleh kelompok AGRA sebagai bentuk upaya pembatasan ruang demokrasi bagi rakyat yang ingin menyuarakan aspirasinya.

Rangkaian aksi di Bundaran HI ini menunjukkan bahwa penyampaian pendapat di ruang publik Jakarta kini melibatkan dinamika yang semakin kompleks, mulai dari taktik infiltrasi transportasi hingga metode uji integritas langsung terhadap petugas keamanan.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan