Kabar YPU – 20 Oktober 2026 | Pasar modal Indonesia tengah menghadapi dinamika yang luar biasa kompleks pada akhir Oktober 2026. Di tengah tekanan indeks dan kebijakan baru dari Bursa Efek Indonesia (BEI), emiten yang terafiliasi dengan grup barito mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas harga saham mereka. Langkah ini muncul di tengah isu perombakan perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu oleh kekhawatiran regulator terhadap konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi.
Ketegangan di lantai bursa ini bermula dari rencana BEI untuk mengeluarkan sejumlah saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan indeks acuan. Langkah ini diambil menyusul pertemuan antara pihak bursa dengan perwakilan MSCI Inc. guna mencegah potensi penurunan peringkat pasar Indonesia. Sebanyak 80 saham direncanakan akan didepak dari perhitungan IHSG, yang mencakup nama-nama besar dari berbagai konglomerasi tanah air.
Langkah Agresif Grup Barito Melalui Buyback Saham
Merespons tekanan pasar dan kondisi volatilitas yang tinggi, tiga emiten utama yang berada di bawah naungan grup barito milik Prajogo Pangestu secara resmi mengumumkan rencana pembelian kembali atau buyback saham. Ketiga emiten tersebut adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Manajemen menyatakan bahwa total dana yang disiapkan untuk aksi korporasi ini mencapai Rp2,5 triliun, yang bersumber sepenuhnya dari kas internal perusahaan. Berikut adalah rincian alokasi dana buyback tersebut:
| Emiten | Alokasi Dana Maksimal | Periode Pelaksanaan |
|---|---|---|
| PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) | Rp1 Triliun | 19 Oktober – 31 Desember 2026 |
| PT Barito Pacific Tbk (BRPT) | Rp1 Triliun | 19 Oktober – 31 Desember 2026 |
| PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) | Rp500 Miliar | 19 Oktober – 31 Desember 2026 |
Rencana ini diambil tidak hanya untuk merespons tekanan harga, tetapi juga sebagai langkah strategis setelah adanya sanksi administratif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait perkara pasar modal yang melibatkan BREN dan CUAN. Manajemen menegaskan bahwa penggunaan dana ini tidak akan mengganggu stabilitas operasional maupun arus kas perusahaan.
Dampak Perombakan Indeks IHSG terhadap Saham Konglomerasi
Keputusan BEI untuk mengeluarkan saham-saham HSC akan mengubah wajah IHSG secara signifikan. Selama beberapa tahun terakhir, kenaikan indeks domestik sangat didominasi oleh saham-saham konglomerasi dengan free float rendah. Sebagai contoh, pada tahun 2023 dan 2025, reli IHSG banyak ditopang oleh saham-saham milik Prajogo Pangestu, Grup Sinar Mas, hingga Grup Salim.
Beberapa emiten yang masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi yang akan dikeluarkan dari perhitungan indeks antara lain:
- Grup Sinar Mas: PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA).
- Grup Barito: PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
- Grup Lainnya: Saham milik Grup Mayapada, Grup CT Corp, Grup Lippo, Grup Djarum, Grup Salim, serta PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Tim riset analis menilai bahwa pengeluaran saham-saham ini dari perhitungan IHSG berpotensi memberikan dampak positif jangka panjang. Dengan keluarnya saham-saham berbobot besar yang memiliki volatilitas ekstrem, beban indeks diharapkan menjadi lebih longgar dan tidak lagi terlalu sensitif terhadap fluktuasi harga dari segelintir saham konglomerasi saja. Hal ini diharapkan dapat menciptakan struktur pasar yang lebih sehat dan mencerminkan fundamental ekonomi yang lebih luas.
Meskipun pasar sempat mengalami koreksi tajam hingga 15% dalam dua hari terakhir, upaya rebound mulai terlihat setelah langkah-langkah mitigasi dari otoritas bursa diumumkan. Meskipun demikian, para investor tetap diminta waspada terhadap dinamika harga saham grup barito dan emiten besar lainnya yang akan terus menjadi pusat perhatian di tengah transisi struktur indeks nasional ini.
Secara keseluruhan, kombinasi antara kebijakan bursa dalam memperbaiki kualitas indeks dan langkah defensif emiten melalui buyback menandai babak baru dalam sejarah pasar modal Indonesia. Fokus pasar kini beralih pada seberapa efektif kebijakan ini mampu menstabilkan kepercayaan investor global terhadap stabilitas pasar saham domestik.

Leave a comment