Skip to content

Meskipun Menkes BGS bukan dokter, pakar medis menilai apakah ia mampu mengisi jabatan Direktur Jenderal WHO, mempertimbangkan pengalaman serta kebijakan yang dibawanya

Menkes BGS, yang kini menempati posisi penting di kementerian kesehatan, menjadi sorotan utama dalam diskusi tentang kemungkinan pengisi jabatan Direktur Jenderal WHO. Isu latar belakang medis menimbulkan pertanyaan kritis di kalangan profesional kesehatan global, karena WHO dikenal sebagai lembaga yang menetapkan norma teknis dan ilmiah internasional.

Sejarah Pengisi Jabatan Direktur Jenderal WHO

Sejak pendirian WHO, hampir setiap Direktur Jenderal (Dirjen) adalah sosok yang memiliki latar belakang dokter atau ahli kesehatan masyarakat. Seorang mantan panel ahli WHO, Dicky Budiman, menegaskan bahwa keahlian medis menjadi fondasi kredibilitas organisasi. “WHO itu menetapkan norma teknis ilmiah, seperti pedoman klinis, respon wabah, dan keamanan obat. Ini butuh kredibilitas ilmu kesehatan yang tinggi agar bisa diterima oleh 194 negara anggota dan komunitas ilmiah dunia,” jelas Dicky.

Wanita muda kini lebih banyak terkena kanker payudara, tingkat stres tinggi diduga menjadi pemicu utama pertumbuhan sel kanker
Baca juga:
Wanita muda kini lebih banyak terkena kanker payudara, tingkat stres tinggi diduga menjadi pemicu utama pertumbuhan sel kanker

Pengalaman dokter atau profesional kesehatan publik memberi kepercayaan kepada negara-negara anggota bahwa kebijakan yang ditetapkan didasarkan pada ilmu dan praktik klinis. Saat ini, Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga memiliki rekam jejak kuat di bidang kesehatan publik, yang memperkuat pola tradisional tersebut.

Peran Menkes BGS dalam Konteks Global

Menkes BGS, meski tidak memiliki latar belakang dokter, memiliki pengalaman yang luas dalam manajemen kebijakan kesehatan. Dalam peran ini, ia telah memimpin inisiatif kebijakan yang berdampak luas, termasuk penanganan penyakit menular dan pembangunan sistem kesehatan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di tingkat kebijakan dapat melampaui latar belakang medis tradisional.

Dicky Budiman menyoroti bahwa fungsi operasional Dirjen WHO lebih banyak terkait dengan manajemen, diplomasi, dan politik. “Di praktik operasionalnya, jabatan Dirjen WHO lebih banyak menyangkut fungsi manajerial, diplomasi, dan politik,” ujar Dicky. Menkes BGS, dengan latar belakang administrasi dan kebijakan, memiliki keahlian dalam mengelola anggaran birokrasi besar, mengoordinasikan tim lintas negara, dan melakukan negosiasi tingkat tinggi antarnegara anggota.

Atlet Asian Games India pingsan saat melakukan weight cut: dehidrasi ekstrem memicu kram otot dan mengancam performa
Baca juga:
Atlet Asian Games India pingsan saat melakukan weight cut: dehidrasi ekstrem memicu kram otot dan mengancam performa

Argumentasi Pro Menkes BGS sebagai Dirjen WHO

Beberapa pakar medis berpendapat bahwa latar belakang non-dokter tidak menutup kemungkinan seseorang memimpin WHO. Menurut Dicky, “Sosok dengan latar belakang non-dokter bukan berarti tidak bisa memimpin organisasi kesehatan global. Pada praktik operasionalnya, jabatan Dirjen WHO lebih banyak menyangkut fungsi manajerial, diplomasi, dan politik.”

Keberhasilan organisasi kesehatan global seringkali bergantung pada tim teknis yang kuat. Menkes BGS dapat mengandalkan jaringan ahli medis dan ilmuwan untuk memberikan dasar ilmiah kebijakan, sementara ia fokus pada koordinasi, pengelolaan sumber daya, dan diplomasi internasional. Pendekatan ini telah terbukti efektif di banyak organisasi kesehatan, di mana pimpinan non-medis berhasil memimpin dengan dukungan tim teknis.

Potensi Tantangan dan Dampaknya

Walaupun Menkes BGS memiliki keahlian manajerial, tantangan utama akan terletak pada persepsi kredibilitas ilmiah di antara komunitas kesehatan. Organisasi kesehatan global sering kali menilai legitimasi pemimpin berdasarkan latar belakang medis. Jika Menkes BGS dipilih, ia harus menunjukkan komitmen kuat terhadap standar ilmiah, serta transparansi dalam proses pengambilan keputusan.

Mayapada Hospital meluncurkan prosedur robotik untuk mengobati kanker prostat dan kista ginjal, menawarkan operasi yang lebih presisi serta minim invasif
Baca juga:
Mayapada Hospital meluncurkan prosedur robotik untuk mengobati kanker prostat dan kista ginjal, menawarkan operasi yang lebih presisi serta minim invasif

Di sisi lain, kemampuan diplomasi dan manajemen anggaran yang dimiliki Menkes BGS dapat memperkuat posisi WHO dalam menghadapi isu-isu global seperti pandemi, perubahan iklim, dan ketidaksetaraan kesehatan. Dengan mengoptimalkan hubungan antarnegara anggota, ia dapat memfasilitasi aliran dana dan sumber daya ke daerah yang paling membutuhkan.

Kesimpulan

Meskipun Menkes BGS tidak memiliki latar belakang dokter, pengalaman dan keahlian manajerialnya menjadikannya kandidat yang layak dipertimbangkan untuk jabatan Direktur Jenderal WHO. Sejarah WHO menunjukkan bahwa latar belakang medis sangat penting, namun fungsi manajerial, diplomasi, dan politik juga memegang peranan krusial. Dengan dukungan tim teknis yang kuat, Menkes BGS dapat membawa perspektif baru sekaligus mempertahankan kredibilitas ilmiah yang tinggi, sehingga memastikan WHO tetap menjadi lembaga yang efektif dan terpercaya di mata 194 negara anggota dan komunitas ilmiah dunia.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan