Kabar YPU – 02 November 2026 | Dinamika kompetisi sepak bola kasta tertinggi Belanda, eredivisie, tengah menjadi sorotan tajam setelah pekan pertandingan terakhir yang menyajikan kontradiksi ekstrem. Di satu sisi, dunia menyaksikan ledakan gol yang memecahkan rekor, namun di sisi lain, para pengamat sepak bola melontarkan kritik pedas mengenai penurunan kualitas permainan yang dianggap tidak layak bagi kompetisi papan atas Eropa.
Pekan ini diwarnai oleh dua hasil luar biasa yang mencuri perhatian publik. FC Twente mencatatkan sejarah baru dengan kemenangan telak 9-0 atas Excelsior di Rotterdam. Penyerang andalan mereka, Wout Weghorst, tampil sangat dominan dengan mencetak empat gol, sebuah performa yang membuat legenda sepak bola Belanda, Rafael van der Vaart, terpukau. Van der Vaart bahkan membandingkan ketajaman Weghorst dengan nama-nama besar seperti Bergkamp dan Van Basten.
Selain Weghorst, pemain Norwegia Sondre Ørjasæter juga mencatatkan pencapaian fenomenal dengan memberikan lima assist dalam satu pertandingan, sebuah rekor yang belum pernah terjadi di eredivisie sepanjang abad ini. Namun, kemenangan besar ini dibayangi oleh insiden kartu merah yang diterima Nesto Groen dari Excelsior hanya lima menit setelah laga dimulai, yang membuat pertandingan menjadi tidak seimbang.
| Pertandingan | Skor | Catatan Utama |
|---|---|---|
| FC Twente vs Excelsior | 9 – 0 | Rekor klub Twente; 4 gol Weghorst; 5 assist Ørjasæter |
| PSV vs Willem II | 7 – 0 | Dominasi total juara bertahan PSV |
| Ajax vs AZ | 1 – 0 | Kemenangan tipis Ajax di tengah kritik kualitas laga |
Meskipun terdapat pesta gol, kualitas teknis dalam beberapa pertandingan justru menuai kecaman. Analis ESPN, Kenneth Perez dan Kees Kwakman, memberikan kritik keras terhadap duel antara Ajax dan AZ yang berakhir dengan skor 1-0. Mereka menyebut pertandingan tersebut berada pada level yang ‘mengerikan’ karena minimnya intensitas dan banyaknya kesalahan teknis yang dilakukan pemain. Kwakman bahkan mengungkapkan kekecewaannya karena tidak melihat adanya kualitas sepak bola yang layak tonton dari dua klub besar tersebut.
Kritik ini memperkuat keresahan yang berkembang di kalangan pendukung dan pengamat mengenai struktur kompetisi eredivisie itu sendiri. Muncul desakan dari berbagai pihak agar liga melakukan reformasi besar-besaran. Beberapa pakar pemasaran olahraga, termasuk Chris Woerts, menyarankan agar model kompetisi diubah menjadi lebih efisien, misalnya dengan mengurangi jumlah klub menjadi 14 atau 16 tim saja guna meningkatkan intensitas pertandingan antar klub papan atas.
Sentimen negatif ini juga terlihat di media sosial, di mana beberapa penggemar menyebut kompetisi ini sebagai ‘Mickey Mouse League’ akibat ketimpangan skor yang terlalu jauh antara tim papan atas dan tim papan bawah. Ketimpangan ini terlihat jelas dari kemenangan PSV 7-0 atas Willem II dan kemenangan telak Twente, yang memicu diskusi mengenai urgensi adanya perubahan format liga agar lebih kompetitif dan menarik bagi penonton internasional.
Sebagai kesimpulan, eredivisie saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kompetisi ini terus melahirkan talenta individu yang luar biasa dan momen-momen bersejarah, namun di sisi lain, ketimpangan kekuatan dan penurunan standar permainan di laga-laga tertentu mengancam reputasi liga. Reformasi struktur kompetisi mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk memastikan sepak bola Belanda tetap relevan di kancah Eropa.

Leave a comment