Skip to content

Rentetan Gempa Mengguncang Indonesia: Dari Sangihe hingga Yogyakarta, BMKG Beri Peringatan Waspada

Rentetan Gempa Mengguncang Indonesia: Dari Sangihe hingga Yogyakarta, BMKG Beri Peringatan Waspada
Rentetan Gempa Mengguncang Indonesia: Dari Sangihe hingga Yogyakarta, BMKG Beri Peringatan Waspada

Kabar YPU – 28 Oktober 2026 | Indonesia kembali diuji oleh aktivitas seismik yang intens dalam beberapa hari terakhir. Berbagai wilayah di tanah air dilaporkan mengalami guncangan akibat pergerakan tektonik, di mana penentuan pusat gempa menjadi fokus utama perhatian masyarakat dan otoritas terkait guna mengantisipasi dampak yang lebih luas.

Pada Rabu (28/10/2026), wilayah Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, diguncang gempa bermagnitudo 5,0. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa ini terjadi pada pukul 16.32 WIB dengan kedalaman cukup dangkal, yakni 10 kilometer. Pusat gempa berada di laut, tepatnya 187 kilometer sebelah barat laut Tahuna. Meskipun guncangan terasa, BMKG memastikan bahwa peristiwa ini tidak berpotensi tsunami dan mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap kemungkinan adanya gempa susulan.

Kabar Gembira! BSU 2026 Cair Rp900.000, Cek Fakta dan Waspada Hoaks Link Palsu
Baca juga:
Kabar Gembira! BSU 2026 Cair Rp900.000, Cek Fakta dan Waspada Hoaks Link Palsu

Tak hanya di Sulawesi Utara, aktivitas kegempaan juga merambah ke wilayah Jawa. Di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terjadi rangkaian gempa yang cukup signifikan. Pada Selasa (27/10/2026) malam pukul 21.43 WIB, gempa bermagnitudo 5,4 mengguncang wilayah barat daya Gunungkidul. BMKG menjelaskan bahwa pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer pada koordinat 9,2 derajat Lintang Selatan dan 110,39 derajat Bujur Timur, sekitar 136 kilometer barat daya Gunungkidul.

Analisis mendalam dari BMKG menunjukkan bahwa gempa di wilayah selatan Yogyakarta tersebut disebabkan oleh aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia. Mekanisme sumber gempa diidentifikasi memiliki pola pergerakan geser naik atau oblique thrust, yang melibatkan kombinasi gerakan naik dan geser pada zona pertemuan lempeng. Dampak getaran dilaporkan terasa hingga ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun dipastikan tidak menimbulkan tsunami. Sebagai catatan, gempa ini sempat diikuti oleh beberapa gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai M4,9.

Macet Parah di Tol Arah Jakarta, Lalin Hari Kejepit Tersumbat di Lebih Dari 10 Titik, Pengendara Terjebak Berjam‑jam
Baca juga:
Macet Parah di Tol Arah Jakarta, Lalin Hari Kejepit Tersumbat di Lebih Dari 10 Titik, Pengendara Terjebak Berjam‑jam

Kegiatan seismik di Gunungkidul berlanjut pada Rabu (28/10/2026) pagi, di mana gempa bermagnitudo 3,0 terjadi pada pukul 08.49 WIB. Kali ini, pusat gempa berlokasi 145 kilometer selatan Gunungkidul dengan kedalaman yang sama, yakni 10 kilometer. Meskipun skalanya lebih kecil, rangkaian ini menunjukkan bahwa zona subduksi di selatan Jawa masih sangat aktif.

Berikut adalah rangkuman data kejadian gempa dalam beberapa hari terakhir:

Erupsi Anak Krakatau Lumpuhkan Jalur Udara: Citilink dan Sejumlah Maskapai Batalkan Puluhan Penerbangan
Baca juga:
Erupsi Anak Krakatau Lumpuhkan Jalur Udara: Citilink dan Sejumlah Maskapai Batalkan Puluhan Penerbangan
Tanggal Lokasi Magnitudo Kedalaman Potensi Tsunami
26 Okt 2026 Mbay, Nagekeo 4,9 – Tidak Ada
27 Okt 2026 Barat Daya Gunungkidul 5,4 10 Km Tidak Ada
28 Okt 2026 Tahuna, Sangihe 5,0 10 Km Tidak Ada
28 Okt 2026 Selatan Gunungkidul 3,0 10 Km Tidak Ada

Rangkaian bencana alam ini juga menyoroti isu resiliensi bencana di Indonesia. Mengacu pada peristiwa gempa Flores pada Agustus 2026 yang lalu, terdapat kritik mengenai efektivitas desentralisasi penanganan bencana. Banyak pihak menilai bahwa meskipun kewenangan telah dibagi antara pusat dan daerah melalui UU Nomor 24 Tahun 2007, implementasinya masih sering terkendala kapasitas fiskal daerah dan ketergantungan pada kebijakan pusat. Hal ini menyebabkan pendanaan sering kali baru mengalir secara masif pada fase tanggap darurat, sementara aspek mitigasi dan kesiapsiagaan jangka panjang masih minim dukungan anggaran.

Masyarakat diharapkan untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak terverifikasi. Selalu pantau kanal resmi BMKG untuk mendapatkan informasi akurat mengenai pusat gempa dan potensi bahaya lainnya. Kesiapsiagaan mandiri dan kepatuhan terhadap arahan otoritas lokal menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko saat menghadapi aktivitas tektonik yang tidak terduga.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan