Kabar YPU – 14 Oktober 2026 | Dunia sepak bola Arab Saudi tengah menghadapi dinamika yang sangat kompleks, terutama bagi klub raksasa al ittihad yang kini tengah berada di tengah badai tantangan. Tidak hanya harus bergelut dengan performa di lapangan hijau yang fluktuatif, klub ini juga dibayang-bayangi oleh ancaman regulasi baru dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang dapat mengubah peta kekuatan kompetisi di masa depan.
Kekecewaan mendalam menyelimuti pendukung setelah kekalahan menyakitkan dalam ajang AFC Champions League Elite. Bertanding di Stadion Al-Inma pada Selasa malam, tim tamu Shabab Al-Ahli Dubai FC berhasil mencuri kemenangan dengan skor 2-1. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi skuat yang sedang mencoba mencari ritme permainan setelah sebelumnya juga menelan kekalahan di kompetisi domestik.
Pelatih kepala asal Jerman, Jens Wissing, mengungkapkan rasa kecewanya usai pertandingan tersebut. Ia menyoroti beberapa faktor teknis yang menyebabkan kegagalan timnya dalam mengamankan poin di kompetisi Asia. Berikut adalah poin-poin utama yang disampaikan Wissing terkait kekalahan tersebut:
- Kesalahan Individu: Dua gol yang bersarang di gawang tim disebabkan oleh kesalahan mudah yang merusak strategi permainan.
- Kurangnya Penyelesaian Akhir: Meskipun tampil lebih dominan di babak kedua dan menciptakan banyak peluang melalui umpan silang, tim gagal mengonversinya menjadi gol.
- Strategi Formasi: Penggunaan tiga penyerang sebenarnya bertujuan untuk memaksimalkan serangan sayap, namun efektivitasnya tidak tercapai.
Kondisi al ittihad semakin rumit ketika melihat situasi di luar lapangan. Berdasarkan laporan terbaru mengenai rencana perubahan regulasi AFC terkait kepemilikan klub, terdapat potensi konflik kepentingan yang serius. AFC dilaporkan akan melarang klub-klub dengan pemilik yang sama untuk berkompetisi secara bersamaan di berbagai turnamen yang mereka kelola.
Hal ini menjadi ancaman nyata bagi klub-klub besar Arab Saudi yang berada di bawah naungan Public Investment Fund (PIF). Selain al ittihad, klub lain seperti Al Nassr dan Al Ahli juga berada dalam radar risiko yang sama. Jika regulasi ini diterapkan secara ketat pada musim 2027-2028, PIF mungkin akan dipaksa untuk melakukan restrukturisasi kepemilikan atau melakukan divestasi pada dua dari tiga klub tersebut agar mereka tetap bisa berpartisipasi di level kontinental.
Sementara itu, di belahan dunia lain, entitas dengan nama serupa, yaitu Al-Ittihad Tripoli dari Libya, juga tengah mengalami pergolakan internal. Penyerang asal Afrika Selatan, Thembinkosi Lorch, dilaporkan telah dikeluarkan dari persiapan tim utama oleh pelatih Fawzi Benzarti. Keputusan ini diambil menjelang dimulainya Liga Profesional Libya musim 2026-2027, yang dipicu oleh kebijakan pembatasan kuota pemain asing.
| Aspek Tantangan | Detail Dampak |
|---|---|
| Performa Teknis | Kekalahan beruntun di Liga Roshn dan AFC Champions League Elite. |
| Regulasi AFC | Risiko kehilangan slot kompetisi Asia akibat kepemilikan tunggal oleh PIF. |
| Manajemen Skuat | Pembatasan kuota pemain asing dan restrukturisasi tim. |
Secara keseluruhan, masa depan al ittihad sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, mereka harus segera memperbaiki koordinasi pemain dan mentalitas bertanding untuk bisa bersaing di level tertinggi Asia. Di sisi lain, manajemen klub harus bersiap menghadapi kemungkinan perubahan struktur kepemilikan yang sangat besar demi mematuhi aturan baru AFC yang dapat berdampak pada eksistensi mereka di panggung internasional.

Leave a comment