Kabar YPU – 22 Oktober 2026 | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, airlangga hartarto, menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam posisi yang kuat meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan global. Hal ini disampaikan usai menghadiri Rapat Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (21/10/2026). Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran pasar terkait sentimen negatif dari MSCI yang berencana mengubah status pasar saham Indonesia.
Menepis Kekhawatiran Sentimen MSCI
Gejolak di pasar modal baru-baru ini dipicu oleh pengumuman MSCI yang membuka konsultasi untuk mengubah status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Meskipun hal ini sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Airlangga meyakini bahwa dinamika tersebut hanyalah riak-riak kecil di pasar keuangan.
“Memang dari segi sentimental ada riak-riak seperti MSCI, tetapi itu bukan sesuatu yang mengganggu secara keseluruhan. Banyak lembaga pemeringkat lainnya juga dapat menilai kekuatan ekonomi kita,” ujar airlangga hartarto di hadapan awak media. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah melakukan langkah-langkah strategis untuk menenangkan pasar, yang terbukti dengan kembalinya IHSG ke zona hijau dengan penguatan mencapai 0,94% ke level 5.328,36.
Indikator Makroekonomi yang Solid
Untuk memperkuat keyakinan publik, Airlangga memaparkan sejumlah data makroekonomi yang menunjukkan performa positif di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Berikut adalah ringkasan indikator ekonomi nasional saat ini:
- Pertumbuhan Ekonomi: Tercatat di angka 5,45 persen.
- Tingkat Inflasi: Berada pada kisaran 2,5% plus minus 1%.
- Cadangan Devisa: Mencapai 146 miliar dolar AS, yang mampu membiayai sekitar 6,5 bulan impor.
- Indeks Manajer Pembelian (PMI): Berada di level 52.
- Indeks Keyakinan Konsumen: Tercatat sebesar 118.
- Penyaluran Kredit Perbankan: Tumbuh sekitar 13% dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap rendah.
Strategi Menghadapi Ketidakpastian Global
Selain menjaga stabilitas domestik, pemerintah juga fokus memperluas akses pasar internasional guna menghadapi ketidakpastian geopolitik yang diprediksi masih akan berlanjut hingga tahun depan. Indonesia telah memperkuat kerja sama dagang melalui berbagai perjanjian strategis, antara lain:
- Agreement on Reciprocal Trade (ART): Perjanjian dagang dengan Amerika Serikat.
- Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA): Perjanjian kemitraan komprehensif dengan Uni Eropa.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi para pelaku usaha di tengah situasi dunia yang tidak menentu. airlangga hartarto juga mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk terus bersinergi dalam menjaga momentum pertumbuhan ini.
Tantangan Lonjakan Harga Minyak Mentah
Di sisi lain, pemerintah juga harus mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP). Airlangga memprediksi rata-rata harga minyak mentah akan mencapai US$ 95 per barel pada akhir tahun ini, angka yang cukup signifikan dibandingkan dengan penetapan awal dalam APBN yang hanya sebesar US$ 70 per barel. Kenaikan ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global yang meningkatkan risiko gangguan pasokan.
Meskipun terdapat tekanan dari kenaikan harga minyak, pemerintah berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah tengah memperhitungkan dampak kenaikan ICP terhadap subsidi, namun tetap berkomitmen untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi bagi masyarakat.
Secara keseluruhan, meskipun pasar modal mengalami volatilitas akibat perubahan status indeks global dan harga komoditas energi yang meningkat, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang tinggi. Dengan kombinasi kebijakan moneter yang tepat, perluasan akses pasar internasional, dan pengelolaan APBN yang adaptif, Indonesia optimis dapat melewati ketidakpastian ekonomi global di masa mendatang.

Leave a comment