Kabar YPU – 22 Oktober 2026 | Pertandingan bertajuk betis vs feyenoord di ajang Liga Champions menyisakan drama panjang yang melampaui batas lapangan hijau. Bermain di Estadio La Cartuja, Sevilla, Feyenoord harus menelan pil pahit setelah kalah tipis 0-1 dari tuan rumah Real Betis. Namun, kekalahan ini bukan sekadar soal skor, melainkan rentetan insiden yang melibatkan keputusan wasit yang kontroversial, kerusuhan suporter di tribun, hingga ketegangan internal antar pemain Feyenoord.
Gol tunggal kemenangan Real Betis tercipta pada menit ke-59 melalui eksekusi penalti Isco. Keputusan penalti ini memicu gelombang protes besar dari pihak Feyenoord. Insiden bermula saat pemain Betis mengirimkan bola ke arah area penalti yang kemudian mengenai lengan bek Feyenoord, Jeremiah St. Juste. Meski St. Juste terlihat mencoba menarik tangannya ke belakang, gerakan refleks tubuhnya membuat lengan kirinya terbuka dan terkena bola. Wasit Simone Sozza dan tim VAR tetap memutuskan penalti, sebuah keputusan yang dinilai sangat berat oleh banyak pengamat sepak bola.
Kritik tajam datang dari mantan pemain, Kees Kwakman, yang menilai bahwa keputusan tersebut terlalu berlebihan. Menurutnya, wasit seharusnya lebih jeli membedakan antara gerakan tangan yang disengaja dengan gerakan refleks alami pemain. Ketegangan dalam laga betis vs feyenoord ini semakin memuncak ketika pengamat sepak bola Dennis Kranenburg mengecam performa wasit Sozza yang dianggap tidak berada pada level kompetisi Liga Champions karena sering mengabaikan pelanggaran dan membiarkan permainan berlanjut saat ada pemain yang mengalami cedera kepala.
Situasi di luar lapangan pun tidak kalah mencekam. Setelah peluit panjang dibunyikan, kericuhan pecah di tribun penonton tandang. Aparat kepolisian Spanyol, Guardia Civil, melakukan tindakan tegas dengan mengosongkan tribun suporter Feyenoord menggunakan tongkat pemukul. Laporan dari media sosial menyebutkan bahwa tindakan keras tersebut bahkan berdampak pada keluarga yang membawa anak-anak. Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan keamanan dalam laga-laga berisiko tinggi antara klub Spanyol dan pendukung asal Belanda.
Tidak hanya masalah keamanan dan wasit, ketegangan juga merambah ke dalam ruang ganti Feyenoord. Dua pemain, Sem Steijn dan Anis Hadj Moussa, terlibat adu mulut yang sangat panas sesaat setelah pertandingan berakhir. Ketegangan ini sebenarnya sudah terlihat di lapangan, di mana Steijn tampak frustrasi dengan keputusan rekan setimnya dalam beberapa momen krusial. Puncaknya, kedua pemain tersebut harus dilerai oleh rekan setim mereka, Oussama Targhalline dan pemimpin tim, Frank Boer, agar tidak terjadi kontak fisik.
Pelatih Feyenoord, Giovanni van Bronckhorst, mencoba menenangkan situasi dalam konferensi pers. Ia mengakui adanya ketegangan tersebut namun menekankan bahwa hal itu adalah hal yang wajar dalam sepak bola tingkat tinggi, terutama saat seluruh tim merasa kecewa karena gagal membawa pulang poin dari laga betis vs feyenoord. Van Bronckhorst berjanji akan membahas masalah internal ini secara mendalam dengan para pemainnya untuk menjaga keharmonisan tim ke depannya.
Secara keseluruhan, laga betis vs feyenoord ini menjadi malam yang sangat kelam bagi Feyenoord. Dengan hasil ini, tim asal Rotterdam tersebut tertahan di posisi ke-26 klasemen grup Liga Champions dengan koleksi tiga poin. Kegagalan ini tidak hanya merugikan secara poin, tetapi juga meninggalkan luka psikologis akibat kerusuhan dan konflik internal yang terjadi.

Leave a comment