Kabar YPU – 28 Oktober 2026 | Pasar komoditas global tengah berada dalam fase ketidakpastian tinggi saat para investor menanti keputusan suku bunga Federal Reserve dan rilis data inflasi terbaru. Di tengah situasi ini, pergerakan gold price menunjukkan tren yang cukup dinamis, di mana harga emas spot sempat tercatat berada di kisaran USD 4.057 per ons, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar global sebelum kebijakan moneter Amerika Serikat diumumkan.
Kondisi pasar internasional saat ini sangat dipengaruhi oleh risiko geopolitik di Asia Barat dan ekspektasi terhadap suku bunga. Meskipun emas sering dianggap sebagai aset safe-haven, suku bunga yang tetap tinggi menjadi hambatan bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Di sisi lain, tren penurunan harga emas global yang mencapai sekitar 24 persen sejak konflik Amerika-Iran pada bulan Februari lalu telah menciptakan volatilitas yang signifikan dibandingkan dengan rekor tertinggi di angka USD 5.400 pada Januari tahun ini.
Di pasar domestik India, dinamika pasar menunjukkan fenomena yang unik. Meskipun harga emas di beberapa kota besar seperti Delhi dan Hyderabad mengalami kenaikan tipis pada 28 Oktober 2026, para pedagang besar justru cenderung menahan diri untuk melakukan pembelian stok baru. Berikut adalah ringkasan pergerakan harga emas di beberapa wilayah India:
| Purity (Karat) | Harga per Gram (Estimasi) |
|---|---|
| 24K Gold | ₹14.330 – ₹14.395 |
| 22K Gold | ₹13.136 – ₹13.195 |
| 18K Gold | ₹10.758 – ₹10.796 |
Ketidaktertarikan para peritel besar di India untuk menyetok emas di tengah musim festival dan pernikahan disebabkan oleh ekspektasi bahwa harga akan terus terkoreksi. Menurut laporan dari MMTC-PAMP India, para pemain besar di industri perhiasan lebih memilih menggunakan stok lama mereka daripada mengambil risiko membeli di harga saat ini, sementara pembelian justru didominasi oleh pedagang skala kecil dan menengah.
Selain faktor psikologi pasar, beberapa kebijakan pemerintah juga turut menekan permintaan emas di India. Kenaikan bea impor emas menjadi 15% pada bulan Mei lalu telah memberikan dampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Selain itu, upaya pemerintah untuk menekan defisit perdagangan dengan mengimbau masyarakat mengurangi pembelian emas turut memperlambat laju permintaan domestik. Hal ini sangat kontras dengan kondisi di China, di mana penurunan harga justru memicu lonjakan permintaan domestik yang kuat.
Analisis pasar menunjukkan bahwa gold price di masa depan akan sangat bergantung pada beberapa variabel kunci, antara lain:
- Kebijakan suku bunga Federal Reserve yang akan menentukan daya tarik emas terhadap mata uang USD.
- Stabilitas geopolitik di wilayah Timur Tengah.
- Kebijakan pajak dan bea impor di negara konsumen besar seperti India.
- Kondisi ekonomi makro yang memengaruhi daya beli masyarakat di sektor ritel.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat kenaikan kecil di tingkat ritel lokal, sentimen global terhadap emas tetap dibayangi oleh kehati-hatian. Para investor dan pembeli perhiasan kini berada dalam posisi menunggu (wait and see), mengamati apakah penurunan harga ini merupakan peluang investasi yang tepat atau justru awal dari tren penurunan yang lebih dalam. Fluktuasi gold price yang terus terjadi menuntut ketelitian bagi para pelaku pasar dalam mengambil keputusan strategis.

Leave a comment