Good Food Good Mood menjadi pepatah yang banyak dipakai, namun apakah benar makanan yang kita konsumsi dapat memengaruhi suasana hati kita? Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjawab bahwa hubungan tersebut memang ada. Menurutnya, asupan makanan yang tepat tidak hanya memengaruhi mood, tetapi juga berdampak langsung pada kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Asupan Makanan dan Dampaknya pada Mood
Dalam live TikTok detikHealth pada Kamis (13/8/2026), dr Yaze menegaskan bahwa “good food sama dengan good mood” memang memiliki dasar ilmiah. Ia menjelaskan bahwa pilihan jenis makanan berperan penting dalam menjaga organ tubuh tetap berfungsi optimal. Sebaliknya, pemilihan makanan yang buruk justru bisa berdampak negatif bagi kesehatan. “Terus selain mood kamu juga oke, ya pasti kesehatannya juga terpantau tuh. Kalau misalnya kita makan yang tinggi natrium (garam), kan sudah pasti tensi akan naik. Enggak good dong untuk tubuhnya,” jelasnya.
Menurut dr Yaze, nutrisi yang masuk ke tubuh memicu reaksi kimia dalam otak. Karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta vitamin dan mineral berperan dalam produksi neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin. Ketika tubuh menerima asupan yang cukup dan seimbang, produksi neurotransmiter tersebut menjadi stabil, sehingga mood menjadi lebih tenang dan positif. Sebaliknya, kekurangan nutrisi tertentu dapat menurunkan kadar neurotransmiter, sehingga seseorang menjadi mudah marah, cemas, atau bahkan depresi.
Fenomena Lapar dan Uring‑Uringan
Dr Yaze juga membahas fenomena orang yang mendadak gampang marah atau uring‑uringan saat merasa lapar. Ia memaparkan bahwa kondisi tersebut merupakan respons alami dari tubuh yang memberi sinyal membutuhkan asupan energi. Ketika seseorang sengaja menahan lapar atau memotong porsi makan secara ekstrem, respons stres pada tubuh dapat terpicu sehingga memengaruhi emosi. “Kalau misalnya lapar, ya pasti uring‑uringan. Karena sebenarnya tubuh kita kasih sinyal mau makan, tapi kita malah nahan‑nahan untuk enggak makan. Atau malah makan cum…”, tambahnya.
Ketika kadar glukosa darah menurun, otak mengirimkan sinyal ke sistem saraf simpatik, yang kemudian memicu produksi hormon kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, dan mempercepat metabolisme. Namun, efek jangka pendeknya adalah meningkatnya ketegangan emosional dan kelelahan mental. Akibatnya, seseorang menjadi mudah tersinggung, kehilangan kesabaran, dan bahkan melakukan tindakan impulsif. Kondisi ini menjadi alasan mengapa orang yang sering menghindari makanan atau menunda makan cenderung lebih rentan mengalami mood buruk.
Bagaimana Menjaga Good Food Good Mood?
Dr Yaze memberikan beberapa tips praktis agar pola makan kita dapat mendukung Good Food Good Mood. Pertama, konsumsilah makanan yang kaya serat, seperti sayuran, buah, dan biji-bijian. Serat membantu menjaga kestabilan gula darah, sehingga otak tidak menerima lonjakan energi yang drastis. Kedua, pilihlah protein berkualitas, seperti ikan, ayam tanpa kulit, atau sumber nabati seperti kedelai. Protein membantu produksi neurotransmiter, yang berperan penting dalam regulasi mood.
Ketiga, hindari makanan tinggi natrium dan gula tambahan. Garam berlebih dapat memicu peningkatan tekanan darah, sementara gula tinggi menyebabkan fluktuasi energi yang dapat memicu ketidakstabilan mood. Keempat, perhatikan asupan lemak sehat, seperti omega‑3 yang ditemukan dalam ikan salmon, chia seed, dan walnut. Lemak omega‑3 dapat menurunkan peradangan dan meningkatkan fungsi otak, yang berkontribusi pada suasana hati yang lebih stabil.
Selain itu, penting juga untuk mengatur pola makan secara teratur. Mengabaikan sarapan atau melewatkan waktu makan dapat menyebabkan penurunan gula darah yang signifikan. Dr Yaze menyarankan agar setiap kali makan, porsi seimbang antara karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat, serta disertai minum cukup air. Dengan cara ini, tubuh tidak akan merasakan “kehilangan” sinyal energi, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya uring‑uringan saat lapar.
Pengaruh Good Food Good Mood terhadap Kesehatan Jangka Panjang
Good Food Good Mood tidak hanya berpengaruh pada kesejahteraan emosional sehari-hari, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang. Ketika tubuh dalam keadaan emosional yang stabil, sistem imun berfungsi lebih baik, proses penyembuhan lebih cepat, dan risiko penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung menurun. Sebaliknya, stres emosional yang berkelanjutan dapat memicu peradangan kronis, yang menjadi faktor risiko utama bagi banyak penyakit degeneratif.
Dr Yaze menekankan bahwa pola makan yang mendukung Good Food Good Mood juga dapat meningkatkan kualitas tidur. Gizi yang tepat membantu menyeimbangkan hormon melatonin, sehingga seseorang dapat tidur lebih nyenyak dan terjaga dengan lebih baik di pagi hari. Kualitas tidur yang baik, pada gilirannya, memperkuat mood dan meningkatkan produktivitas.
Kesimpulan
Melalui penjelasan dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, jelas bahwa hubungan antara makanan dan mood memang tidak dapat dipandang remeh. Good Food Good Mood menjadi konsep yang didukung oleh mekanisme biokimia di dalam tubuh, di mana nutrisi mempengaruhi produksi neurotransmiter dan hormon yang mengatur emosi. Ketika tubuh tidak menerima cukup energi, reaksi stres memicu perubahan mood, yang sering terlihat dalam perilaku uring‑uringan saat lapar. Dengan menerapkan pola makan seimbang, menghindari makanan tinggi garam dan gula, serta menjaga kebiasaan makan teratur, kita dapat memelihara keseimbangan emosional dan kesehatan fisik secara bersamaan. Good Food Good Mood bukan sekadar pepatah, melainkan strategi sederhana namun kuat untuk hidup lebih sehat dan bahagia.

Leave a comment