×

Sahroni Desak Polisi Evaluasi Acara Sound Horeg Usai Tragedi 3 Warga Jatim Tewas, Tuntut Standar Keamanan Lebih Ketat

Sahroni Desak Polisi Evaluasi Acara Sound Horeg Usai Tragedi 3 Warga Jatim Tewas, Tuntut Standar Keamanan Lebih Ketat

Sahroni menilai evaluasi perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan memakan korban jiwa. “Pihak Polri harus dan wajib evaluasi acara sound horeg tersebut karena sudah memakan korban. Kalau tidak dievaluasi, semakin banyak korban ke depan,” kata Sahroni kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).

Tragedi Sound Horeg di Jawa Timur: Kronologi Singkat

Tragedi yang menimpa tiga warga Jatim terjadi pada bulan Agustus 2026, saat parade sound horeg di beberapa kota. Pada hari pertama, seorang kru sound horeg bernama SN (29) tewas di Jember ketika sistem sound yang dipasang mengalami kegagalan teknis. Kerusakan pada peralatan menghasilkan ledakan kecil namun cukup mematikan bagi yang berada di dekatnya. Dalam insiden kedua, seorang warga yang ikut menyaksikan parade di Surabaya jatuh dari panggung karena kerusakan struktur panggung, menuntun pada kematian. Insiden ketiga, yang terjadi di Malang, melibatkan seorang petugas keamanan yang tergelincir saat menutup area acara, akhirnya memicu kecelakaan fatal.

Gangguan Listrik di Stasiun Jakarta Kota Membatasi Operasi KRL hingga Stasiun Jayakarta, Penumpang Diminta Menyesuaikan Jadwal
Baca juga:
Gangguan Listrik di Stasiun Jakarta Kota Membatasi Operasi KRL hingga Stasiun Jayakarta, Penumpang Diminta Menyesuaikan Jadwal

Setelah kejadian, masyarakat menuntut penjelasan resmi. Sahroni menegaskan bahwa kejadian ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari kurangnya standar keamanan yang ketat. “Kita hormati budaya, tapi jangan sampai memakan korban kembali ke depannya,” ujarnya, menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan.

Evaluasi Polri: Kewajiban dan Tanggung Jawab

Sahroni menuntut kepolisian melakukan penyelidikan menyeluruh apabila ada dugaan kelalaian. Ia menegaskan bahwa polisi wajib selidiki bila ada indikasi lalai dalam pelaksanaan event tersebut. “Polisi harus bersikap tegas agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya. Menurutnya, polisi tidak hanya harus menindaklanjuti kejadian, tetapi juga harus menilai potensi risiko sebelum acara berlangsung.

Evaluasi ini diharapkan dapat mengidentifikasi titik-titik rawan, mulai dari pemasangan peralatan sound, struktur panggung, hingga prosedur evakuasi. Polri juga harus memastikan bahwa setiap penyelenggara acara memiliki rencana darurat yang jelas dan dapat diimplementasikan dengan cepat.

Guncangan di Berbagai Sektor: Dari Skandal Donasi Politik Hingga Rekor Baru di Lapangan Hijau
Baca juga:
Guncangan di Berbagai Sektor: Dari Skandal Donasi Politik Hingga Rekor Baru di Lapangan Hijau

Dampak Sosial dan Budaya dari Tragedi Sound Horeg

Tragedi ini menimbulkan dampak emosional yang mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat luas. Rasa takut dan cemas terhadap acara budaya menjadi lebih tinggi. Masyarakat yang sebelumnya menghargai tradisi kini harus menyeimbangkan antara keinginan mempertahankan budaya dan kebutuhan akan keselamatan.

Selain itu, tragedi ini menyoroti ketidakseimbangan antara apresiasi budaya dan praktik keamanan yang tidak memadai. Banyak pihak yang menilai bahwa tradisi masih dapat dijalankan dengan aman jika ada regulasi yang jelas. Namun, tanpa evaluasi dan penegakan hukum, risiko kegagalan teknis atau kelalaian manusia akan terus mengancam.

Konsekuensi ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Penyelenggara acara harus menanggung biaya tambahan untuk audit keamanan dan perbaikan infrastruktur. Selain itu, kepercayaan publik terhadap acara budaya berkurang, yang dapat memengaruhi partisipasi masyarakat dan pendapatan lokal.

Dinamika Disnaker di Berbagai Daerah: Dari Peluang Kerja Global hingga Tantangan Korupsi dan Kompetensi
Baca juga:
Dinamika Disnaker di Berbagai Daerah: Dari Peluang Kerja Global hingga Tantangan Korupsi dan Kompetensi

Langkah Selanjutnya: Standar Keamanan Lebih Ketat

Sahroni menegaskan perlunya standar keamanan yang lebih ketat. Ia meminta Polri untuk mengembangkan panduan khusus bagi acara sound horeg, termasuk persyaratan teknis peralatan, prosedur inspeksi rutin, dan pelatihan keamanan bagi semua pihak yang terlibat. Selain itu, ia mengusulkan adanya pengawasan independen yang dapat memantau kepatuhan terhadap standar tersebut.

Dalam konteks ini, penting bagi pihak penyelenggara acara untuk tidak menormalisasi risiko. “Jangan menormalisasi budaya mengakibatkan meninggalnya seseorang. Itu sangat menyedihkan,” tutur Sahroni. Ia menekankan bahwa budaya dan tradisi tetap harus dihormati, namun tidak boleh sampai membahayakan keselamatan warga.

Kesimpulan

Tragedi sound horeg di Jawa Timur menyoroti kebutuhan mendesak akan evaluasi dan penegakan standar keamanan yang ketat. Sahroni menegaskan bahwa polisi harus bertindak tegas dan menyelidiki setiap dugaan kelalaian. Dengan pendekatan yang sistematis, diharapkan budaya dapat dipertahankan tanpa mengorbankan nyawa. Keputusan ini menandai langkah penting dalam menjaga keseimbangan antara warisan budaya dan keselamatan publik, memastikan tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

Post Comment

You May Have Missed