Pakar ITB menjelaskan mengapa karhutla terus berulang, mengaitkannya dengan bahaya pengeringan gambut yang memperparah kebakaran

Pakar ITB menjelaskan mengapa karhutla terus berulang, mengaitkannya dengan bahaya pengeringan gambut yang memperparah kebakaran

Karhutla menjadi sorotan utama setiap musim kemarau di Indonesia, terutama di wilayah dengan lahan gambut. Fenomena ini bukan sekadar api yang terlihat di permukaan, melainkan kebakaran yang mampu menyebar di bawah tanah, menimbulkan dampak ekologis jangka panjang.

Kronologi Kebakaran Gambut di Kalimantan Selatan

Foto udara kebaran hutan dan lahan di Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menampilkan kabut asap yang membumbung tinggi. Kejadian ini terjadi pada Kamis, 3 September 2026, saat musim kemarau menyengat. Kebakaran di daerah tersebut tidak hanya menimbulkan asap tebal, tetapi juga mengancam ekosistem gambut yang sangat sensitif terhadap perubahan kelembapan.

Samsung Galaxy A08 dirilis secara diam-diam dengan baterai 6.000 mAh, dipastikan akan segera masuk pasar Indonesia dalam beberapa minggu
Baca juga:
Samsung Galaxy A08 dirilis secara diam-diam dengan baterai 6.000 mAh, dipastikan akan segera masuk pasar Indonesia dalam beberapa minggu

Menurut Pakar Ekologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), I Rachmatunnisa, kebakaran gambut seringkali berlanjut di bawah permukaan tanah. Sementara api di permukaan dapat dipadamkan dengan cepat, bagian bawah gambut tetap terbakar karena bahan organik yang tersisa. Proses ini memerlukan waktu lama, bahkan bertahun-tahun, sebelum lahan kembali sehat.

Pengamatan di Liang Anggang menunjukkan bahwa kebakaran tersebut memakan waktu berhari-hari untuk dikendalikan. Saat ini, sisa bara masih menyala di lapisan bawah, menimbulkan risiko kebakaran kembali saat kelembapan meningkat atau ketika ada aktivitas manusia di area tersebut.

Alasan Mengapa Karhutla Terus Berulang

Karhutla tidak sekadar dipicu oleh suhu tinggi. Faktor utama yang memicu kebakaran gambut adalah pengeringan lahan gambut itu sendiri. Ketika gambut mengering, kandungan airnya turun drastis, sehingga material organik menjadi mudah terbakar. Selain itu, proses dekomposisi mikroba di dalam gambut menambah jumlah bahan bakar potensial.

Pakar menekankan bahwa pengeringan gambut sering kali dipicu oleh kegiatan manusia seperti penggundulan hutan, pembangunan infrastruktur, dan pemanfaatan lahan untuk pertanian. Aktivitas tersebut mengurangi tutupan vegetasi yang biasanya menahan kelembapan di tanah. Akibatnya, gambut menjadi lebih kering dan rentan terhadap kebakaran.

BRIN mengungkap tahapan perkembangan Anak Krakatau, namun masih jauh dari potensi letusan dahsyat ala 1883 yang mematikan
Baca juga:
BRIN mengungkap tahapan perkembangan Anak Krakatau, namun masih jauh dari potensi letusan dahsyat ala 1883 yang mematikan

Selain itu, kebakaran di lahan gambut dapat memicu perubahan iklim lokal. Emisi karbon yang dihasilkan menambah beban gas rumah kaca, sehingga memperparah kondisi suhu global. Siklus ini menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi kebakaran berikutnya, sehingga karhutla menjadi fenomena yang berulang.

Dampak Ekologis dan Sosial Karhutla

Setelah kebakaran, lahan gambut tidak hanya kehilangan vegetasi, tetapi juga kehilangan kapasitas penyimpanan karbonnya. Hal ini berdampak pada kualitas udara, karena partikel debu dan gas beracun mengalir ke udara. Pencemaran udara mempengaruhi kesehatan masyarakat, khususnya di daerah pedesaan yang bergantung pada udara bersih untuk kehidupan sehari-hari.

Ekosistem gambut yang rusak juga mengganggu keanekaragaman hayati. Banyak spesies endemik yang bergantung pada kondisi lembap gambut menjadi terancam. Selain itu, kebakaran dapat menyebabkan erosi tanah, memicu banjir di musim hujan berikutnya, dan menurunkan produktivitas lahan pertanian.

Secara sosial, karhutla menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan. Komunitas lokal kehilangan mata pencaharian, terutama bagi mereka yang bergantung pada pertanian atau perkebunan. Selain itu, biaya pemulihan lahan yang terburn sangat tinggi, menambah beban pada pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat.

Setelah Gunung Anak Krakatau erupsi, otoritas mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarkan informasi menyesatkan yang dapat menimbulkan kepanikan
Baca juga:
Setelah Gunung Anak Krakatau erupsi, otoritas mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarkan informasi menyesatkan yang dapat menimbulkan kepanikan

Upaya Mitigasi dan Pencegahan Karhutla

Untuk mengurangi frekuensi karhutla, perlu dilakukan pendekatan holistik yang melibatkan semua pihak. Salah satu solusi adalah menjaga kelembapan lahan gambut melalui penanaman vegetasi yang dapat menahan air. Penanaman hutan hijau di sekitar area gambut dapat menurunkan tingkat pengeringan.

Selain itu, pengelolaan lahan yang berkelanjutan harus menjadi prioritas. Penggunaan lahan gambut untuk pertanian atau perkebunan harus diatur ketat, dengan memperhatikan batasan penggundulan hutan. Pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kapasitas patroli dan pemantauan kebakaran, terutama di musim kemarau.

Upaya pencegahan juga melibatkan edukasi masyarakat. Kesadaran akan bahaya kebakaran gambut dapat memotivasi komunitas untuk melaporkan potensi kebakaran lebih cepat. Program pelatihan tentang teknik pemadaman kebakaran yang aman dan ramah lingkungan dapat membantu masyarakat mengatasi risiko ini.

Kesimpulan

Karhutla bukan sekadar masalah kebakaran yang tampak di permukaan. Ia melibatkan proses yang kompleks di bawah tanah, dipicu oleh pengeringan gambut yang seringkali disebabkan oleh aktivitas manusia. Dampak ekologis dan sosialnya sangat luas, mulai dari kerusakan habitat hingga pencemaran udara. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan terpadu yang mencakup pengelolaan lahan, penanaman vegetasi, dan edukasi masyarakat. Hanya dengan kerja sama semua pihak, karhutla dapat dikurangi frekuensinya, melindungi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Post Comment

You May Have Missed