Drama di Linz: Selebrasi Senjata Saied Abu Farchi dan Protes Kemanusiaan Warnai Laga Austria vs Israel

Drama di Linz: Selebrasi Senjata Saied Abu Farchi dan Protes Kemanusiaan Warnai Laga Austria vs Israel

Drama di Linz: Selebrasi Senjata Saied Abu Farchi dan Protes Kemanusiaan Warnai Laga Austria vs Israel

Kabar YPU – 25 September 2026 | Pertandingan pembuka fase grup UEFA Nations League 2026/27 yang mempertemukan austria vs Israel di Raiffeisen Arena, Linz, berakhir dengan penuh kontroversi. Selain hasil akhir pertandingan, laga ini menjadi sorotan dunia karena kombinasi antara aksi provokatif pemain di lapangan dan pesan politik yang kuat dari organisasi kemanusiaan internasional.

Pertandingan dimulai dengan tensi tinggi sejak menit awal. Austria mengambil keunggulan lebih dulu pada menit ke-43 melalui eksekusi penalti yang dingin dari Romano Schmid. Namun, Israel memberikan perlawanan sengit di babak kedua. Pada menit ke-55, penyerang muda Israel, Saied Abu Farchi, berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui sundulan tajam yang menggetarkan jala gawang Austria.

Drama Menit Akhir di Lahti Stadium: FF Jaro Curi Poin dari FC Lahti dalam Pertarungan Penentuan Relegasi
Baca juga:
Drama Menit Akhir di Lahti Stadium: FF Jaro Curi Poin dari FC Lahti dalam Pertarungan Penentuan Relegasi

Namun, momen yang paling membekas dan memicu kemarahan publik adalah selebrasi setelah gol tersebut. Abu Farchi berlari ke arah bendera sudut, mengambilnya, dan melakukan gerakan menirukan penembakan senapan (rifle celebration). Aksi ini dianggap sangat provokatif oleh wasit Georgi Kabakov. Mengingat Abu Farchi sudah mengantongi satu kartu kuning sebelumnya, wasit segera mengeluarkan kartu kuning kedua yang diikuti dengan kartu merah. Keputusan ini membuat Israel harus bermain dengan sepuluh pemain selama sisa pertandingan.

Waktu Kejadian Pencetak Gol/Pelaku
43′ Gol Austria (Penalti) Romano Schmid
55′ Gol Israel Saied Abu Farchi
55′ Kartu Merah (Selebrasi Provokatif) Saied Abu Farchi
90′ Gol Austria Phillipp Mwene
90+ Gol Austria Sasa Kalajdzic

Kehilangan satu pemain menjadi titik balik krusial dalam laga austria vs Israel ini. Meskipun sempat bertahan dengan disiplin tinggi, keunggulan jumlah pemain akhirnya dimanfaatkan oleh Austria. Phillipp Mwene berhasil mengembalikan keunggulan Austria pada menit ke-90, dan Sasa Kalajdzic menutup kemenangan tuan rumah dengan gol ketiga pada masa injury time, memastikan skor akhir 3-1 untuk kemenangan Austria.

Dominasi Udara dan Peran Baru: Mengapa Casemiro Tetap Menjadi Ancaman Mematikan di MLS
Baca juga:
Dominasi Udara dan Peran Baru: Mengapa Casemiro Tetap Menjadi Ancaman Mematikan di MLS

Di luar lapangan, suasana pertandingan juga diwarnai oleh pesan politik yang tajam. Amnesty International Austria menggunakan panggung internasional ini untuk menyuarakan isu kemanusiaan dengan memasang spanduk bertuliskan “END GENOCIDE” di dalam stadion. Alexander Weihrauch, seorang aktivis dari Amnesty International Austria, menyatakan bahwa protes ini ditujukan kepada otoritas olahraga seperti UEFA dan FIFA agar segera menangguhkan keanggotaan Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA).

Amnesty International mendesak tindakan tegas terkait dukungan terhadap pemukiman ilegal di Wilayah Pendudukan Palestina (OPT). Mereka menekankan bahwa keheningan otoritas olahraga terhadap pelanggaran hukum internasional yang terjadi di Gaza hanya akan memperpanjang penderitaan warga sipil. Protes ini menambah lapisan kompleksitas pada laga austria vs Israel yang seharusnya menjadi ajang kompetisi olahraga murni.

Drama Eredivisie: Pertandingan Utrecht vs Go Ahead Eagles Dihentikan Akibat Aksi Anarkis Suporter
Baca juga:
Drama Eredivisie: Pertandingan Utrecht vs Go Ahead Eagles Dihentikan Akibat Aksi Anarkis Suporter

Dengan kekalahan ini, Israel kini terpuruk di dasar klasemen Grup 3. Mereka memiliki tugas berat untuk bangkit dalam laga berikutnya melawan Irlandia dan Kosovo demi menghindari degradasi. Sementara itu, bagi Austria, kemenangan ini menjadi modal penting untuk mengamankan posisi mereka di grup. Laga austria vs Israel ini akan terus diingat bukan hanya karena teknis permainannya, melainkan karena bagaimana sepak bola bersinggungan langsung dengan isu geopolitik dan etika perilaku pemain di lapangan hijau.

Post Comment