Skip to content

Operasi berbantuan AI pertama di dunia dilakukan pada pria 48 tahun, menandai era kedokteran digital yang revolusioner

Operasi berbantuan AI pertama di dunia dilakukan pada pria 48 tahun, menandai era kedokteran digital yang revolusioner. Pada bulan Mei 2026, tim bedah saraf di National Hospital for Neurology and Neurosurgery (NHNN), bagian dari University College London Hospitals (UCLH), melaksanakan prosedur bedah otak yang belum pernah dicapai sebelumnya: penggunaan kecerdasan buatan secara real‑time untuk memetakan dan memisahkan jaringan tumor dari struktur vital otak. Kejadian ini tidak hanya menjadi tonggak sejarah medis, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan teknologi bedah berbasis AI yang lebih luas.

Sejarah dan Latar Belakang Operasi Berbantuan AI

NHNN, yang didirikan pada tahun 1859 sebagai rumah sakit bedah saraf pertama di dunia, telah lama menjadi pusat inovasi neurologi. Selama bertahun‑tahun, para peneliti dan dokter di sini mengembangkan berbagai teknik canggih untuk menangani kondisi otak yang kompleks. Namun, penggunaan AI dalam bedah otak masih terbatas pada fase riset dan simulasi. Teknologi AI yang dapat memetakan anatomi otak secara presisi dengan sistem pewarnaan (color coding) telah diuji dalam laboratorium, namun belum pernah diterapkan pada pasien nyata.

Mengenal H1N1pdm09, strain influenza A yang kini menjadi penyumbang utama peningkatan kasus di Indonesia, lengkap dengan gejala dan pencegahannya
Baca juga:
Mengenal H1N1pdm09, strain influenza A yang kini menjadi penyumbang utama peningkatan kasus di Indonesia, lengkap dengan gejala dan pencegahannya

Pada tahun 2024, seorang pria berusia 48 tahun, Rhys Hibbert, didiagnosis memiliki tumor pada kelenjar pituitari. Kelenjar ini terletak di dasar otak dan berperan penting dalam mengatur hormon tubuh. Tumor di area ini sangat sensitif karena berdekatan dengan saraf optik dan struktur vital lainnya. Karena risiko tinggi, dokter di NHNN memutuskan untuk mencoba pendekatan baru yang melibatkan AI sebagai alat bantu bedah. Hibbert menjadi pasien pertama yang dipilih untuk prosedur ini, mengingat sejarah rumah sakit dan potensi manfaatnya bagi pasien.

Prosedur Operasi dan Peran AI dalam Bedah

Operasi dimulai dengan persiapan standar: anestesi umum, pembuatan paku punggung, dan penempatan kamera stereoskopik. Setelah otak dibuka, tim bedah memanfaatkan sistem AI yang telah dikembangkan khusus untuk prosedur ini. Sistem AI tersebut bekerja dengan memberi kode warna pada layar monitor operasi secara real‑time. Jaringan saraf diberi warna hijau, jaringan ikat diwarnai pirus (turquoise), dan tumor ditandai dengan warna merah terang. Peta warna digital ini memungkinkan dokter bedah melihat secara akurat area mana yang aman dipotong dan area vital yang harus dihindari.

Penggunaan warna ini tidak hanya memberikan panduan visual, tetapi juga meminimalkan risiko kesalahan manusia. Dengan AI menandai struktur otak secara otomatis, dokter dapat fokus pada teknik bedah tanpa harus memeriksa setiap detail anatomi secara manual. Selain itu, sistem AI dapat mengadaptasi peta warna secara dinamis saat operasi berlangsung, memperhitungkan perubahan posisi jaringan akibat tekanan atau pergerakan otak.

Infografis: Data terbaru menunjukkan dorongan mengakhiri hidup paling tinggi di kalangan Gen Z dan Milenial, apa penyebabnya?
Baca juga:
Infografis: Data terbaru menunjukkan dorongan mengakhiri hidup paling tinggi di kalangan Gen Z dan Milenial, apa penyebabnya?

Keberhasilan dan Dampak pada Pasien

Setelah operasi selesai, Hibbert dinyatakan berhasil mengangkat tumor tanpa menimbulkan kerusakan pada saraf optik. Ia mengaku sangat bersyukur karena operasi canggih ini berhasil menyelamatkan penglihatannya dari ancaman kebutaan. “Saya merasa sangat terhormat telah diminta menjadi pasien pertama di dunia dalam riset ini. Rumah sakit ini didirikan pada 1859 sebagai RS bedah saraf pertama di dunia, jadi sangat cocok jika rumah sakit yang sama juga menjadi yang pertama melakukan bedah saraf berbasis AI di dunia,” ungkapnya.

Keberhasilan ini menandai langkah penting dalam penerapan teknologi AI di bidang kedokteran. Dengan menggunakan AI sebagai alat bantu bedah, risiko komplikasi dapat dikurangi, waktu operasi dapat dipersingkat, dan hasil bedah dapat lebih akurat. Selain itu, peta warna digital memungkinkan pelatihan dokter muda secara real‑time, meningkatkan keterampilan mereka dalam menghadapi kasus kompleks.

Implikasi Jangka Panjang bagi Kedokteran Digital

Operasi berbantuan AI pertama di dunia membuka peluang bagi pengembangan teknologi bedah lainnya. Misalnya, sistem AI dapat diadaptasi untuk bedah pada area otak yang lebih luas, atau bahkan pada organ tubuh lainnya seperti jantung dan paru‑paru. Penerapan AI juga dapat memperluas penggunaan imaging 3D dan pemetaan jaringan secara real‑time, sehingga prosedur bedah menjadi lebih aman dan efisien.

Panduan Praktis Mindful Tanpa Terlihat Apatis, Viral di Medsos Bantu Kamu Kelola Stres Sehari-hari
Baca juga:
Panduan Praktis Mindful Tanpa Terlihat Apatis, Viral di Medsos Bantu Kamu Kelola Stres Sehari-hari

Selain manfaat klinis, penggunaan AI dalam bedah juga berdampak pada aspek ekonomi. Dengan mengurangi waktu operasi dan komplikasi, rumah sakit dapat menghemat biaya perawatan jangka panjang. Hal ini juga dapat meningkatkan aksesibilitas layanan bedah kompleks bagi pasien di wilayah yang belum memiliki fasilitas bedah canggih.

Namun, adopsi teknologi ini juga menimbulkan pertanyaan etis dan regulasi. Penggunaan AI harus diawasi secara ketat untuk memastikan keandalan dan keamanan. Selain itu, pelatihan dokter dan tenaga medis lainnya menjadi kunci keberhasilan implementasi teknologi ini.

Kesimpulan

Operasi berbantuan AI pertama di dunia yang dilakukan pada pria 48 tahun di National Hospital for Neurology and Neurosurgery menandai tonggak penting dalam evolusi kedokteran digital. Dengan memanfaatkan sistem pewarnaan real‑time, tim bedah dapat memisahkan jaringan tumor dari struktur vital otak secara akurat, mengurangi risiko komplikasi, dan meningkatkan hasil bedah. Keberhasilan operasi ini tidak hanya menyelamatkan penglihatan Hibbert, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan teknologi bedah berbasis AI yang lebih luas. Seiring perkembangan teknologi, era kedokteran digital akan terus berkembang, membawa harapan baru bagi pasien dan tenaga medis di seluruh dunia.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan