Skip to content

Mantan dosen kini beralih menjadi guru Mandarin bagi narapidana di Lapas Perempuan Bandung, mengajar Leny secara intensif

Mantan dosen kini beralih menjadi guru Mandarin bagi narapidana di Lapas Perempuan Bandung, mengajar Leny secara intensif. Leny, seorang warga negara Indonesia yang telah tinggal di China selama 28 tahun, memutuskan untuk memanfaatkan keahlian bahasa Mandarin yang ia pelajari sebagai dosen di Universitas Beijing. Ia memulai inisiatifnya pada tahun 2025 dengan membuka kelas bahasa Mandarin pertama di Lapas Perempuan Bandung, sebuah langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya di lembaga tersebut.

Awal Mula Inisiatif Bahasa Mandarin di Lapas Perempuan Bandung

Ketika pertama kali Leny mengunjungi Lapas Perempuan Bandung, ia menyadari bahwa para narapidana perempuan memiliki kebutuhan yang berbeda dari narapidana laki-laki. Banyak dari mereka belum memiliki kesempatan untuk belajar bahasa asing, khususnya Mandarin, yang dapat membuka peluang kerja di masa depan. Dengan latar belakang akademisnya, Leny memutuskan untuk membentuk kelas bahasa Mandarin di dalam lapas. Pada tahun 2025, ia memulai kelas ini dengan hanya 12 peserta, semua perempuan yang tertarik untuk belajar.

Dinamika São Paulo: Dari Tragedi Kriminalitas hingga Kejutan Dramatis di Lapangan Hijau
Baca juga:
Dinamika São Paulo: Dari Tragedi Kriminalitas hingga Kejutan Dramatis di Lapangan Hijau

Metode yang dipilih Leny sangat berbeda dari pendekatan konvensional yang sering kali menekankan tata bahasa (grammar). Ia menekankan pada percakapan sehari-hari dan penggunaan bahasa dalam konteks praktis. “Saya buka kelas untuk having fun teman-teman, lebih banyak bermain karena yang saya ajarkan lebih ke conversation,” jelas Leny. Ia tidak menuntut para peserta dapat menulis huruf Hanzi; alih-alih, ia menulis Hanzi di papan tulis dan meminta mereka menuliskannya dalam pinyin. Pendekatan ini membuat proses belajar terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Materi Pembelajaran dan Teknik Pengajaran

Materi yang diajarkan Leny meliputi pelafalan, angka, cara memperkenalkan diri, serta lagu berbahasa Mandarin. Ia menghindari materi yang terlalu rumit, mengingat tingkat pendidikan dan latar belakang peserta yang beragam. Dengan fokus pada percakapan, Leny menanamkan keterampilan berbicara yang dapat langsung diterapkan dalam situasi sehari-hari, baik di dalam maupun di luar lapas. Selain itu, ia juga mengajarkan cara menggunakan bahasa Mandarin dalam konteks sosial, seperti memberi salam, bertanya arah, dan berbicara tentang hobi.

Teknik pengajaran yang digunakan Leny sangat interaktif. Ia sering mengadakan role-play di mana para narapidana berlatih perkenalan dan percakapan singkat. Metode ini tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa, tetapi juga membangun rasa percaya diri peserta. Leny juga mengintegrasikan musik dalam pelajaran, memutar lagu-lagu Mandarin populer yang membantu peserta menghafal kosakata dan kalimat dengan lebih mudah. Semua aktivitas dirancang agar peserta tetap terlibat dan tidak merasa terbebani oleh teori bahasa yang berat.

Jakarta Guncang Dunia: Ribuan WNA Padati GBK Demi Konser Kanye West, Ekonomi Kota Melonjak Drastis
Baca juga:
Jakarta Guncang Dunia: Ribuan WNA Padati GBK Demi Konser Kanye West, Ekonomi Kota Melonjak Drastis

Motivasi dan Dampak Sosial Inisiatif Leny

Motivasi utama Leny dalam membuka kelas bahasa Mandarin di Lapas Perempuan Bandung adalah keinginan untuk memberikan kesempatan kepada narapidana perempuan untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang lebih baik. Dengan menguasai bahasa Mandarin, para narapidana dapat mengakses peluang kerja di sektor industri, pariwisata, dan perdagangan internasional, terutama di negara-negara Tiongkok dan komunitas Tionghoa di Indonesia. Leny percaya bahwa kemampuan bahasa asing dapat menjadi alat pembebasan, memungkinkan narapidana untuk keluar dari lingkaran kriminalitas dan memulai karier yang produktif.

Dampak sosial dari inisiatif ini sudah terlihat sejak awal. Para narapidana yang mengikuti kelas Mandarin menunjukkan peningkatan motivasi belajar dan rasa memiliki tujuan. Beberapa bahkan melaporkan bahwa mereka merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk memperbaiki perilaku mereka di dalam lapas. Selain itu, adanya kelas bahasa Mandarin juga menambah nilai tambah bagi Lapas Perempuan Bandung, menjadikannya lembaga yang lebih progresif dan berorientasi pada rehabilitasi.

Lebih jauh, Leny telah menjadi contoh bagi lembaga penjara lain di Indonesia. Setelah melihat hasil positif di Lapas Perempuan Bandung, beberapa lembaga penjara di kota lain mulai mempertimbangkan untuk membuka program bahasa asing serupa. Leny, dengan dedikasinya, telah membuka pintu bagi narapidana perempuan untuk mengembangkan diri melalui pembelajaran bahasa Mandarin yang intensif dan menyenangkan.

Jaksa Menginterogasi Eks Anak Buah Yaqut, Tanyakan Siapa Sebenarnya Pengatur Plotting Kuota Haji Tambahan
Baca juga:
Jaksa Menginterogasi Eks Anak Buah Yaqut, Tanyakan Siapa Sebenarnya Pengatur Plotting Kuota Haji Tambahan

Pengembangan Program dan Rencana Masa Depan

Seiring berjalannya waktu, Leny berencana untuk memperluas program ini dengan menambah jumlah peserta dan menambahkan modul-modul lanjutan. Ia ingin mencakup topik-topik seperti kosakata kerja, etika bisnis, dan komunikasi profesional dalam bahasa Mandarin. Leny juga berencana untuk mengundang penutur asli Mandarin atau tenaga pengajar lain yang berpengalaman untuk memberikan pelatihan tambahan kepada narapidana, sehingga mereka dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih beragam.

Di samping itu, Leny sedang menyiapkan materi pembelajaran digital yang dapat diakses oleh para narapidana di luar jam kelas. Dengan memanfaatkan teknologi, para peserta dapat melanjutkan pembelajaran secara mandiri, mempercepat proses penguasaan bahasa. Program ini juga direncanakan untuk diintegrasikan dengan program pelatihan kerja, sehingga narapidana dapat langsung menerapkan keterampilan bahasa Mandarin mereka dalam konteks profesional.

Kesimpulan

Mantan dosen yang kini menjadi guru Mandarin bagi narapidana perempuan di Lapas Perempuan Bandung telah menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi alat rehabilitasi yang efektif. Dengan metode pembelajaran yang ringan dan berfokus pada percakapan, Leny berhasil menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan produktif. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa para narapidana, tetapi juga memberikan mereka harapan baru untuk masa depan. Keberhasilan program ini menegaskan pentingnya pendidikan bahasa asing dalam proses rehabilitasi dan membuka peluang bagi lembaga penjara lain untuk mengikuti jejak inovatif ini.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan