Antara Haru dan Semangat: Dari Duka Muazin Masjidil Haram hingga Gerakan Subuh Jamaah di Sukoharjo

Antara Haru dan Semangat: Dari Duka Muazin Masjidil Haram hingga Gerakan Subuh Jamaah di Sukoharjo

Antara Haru dan Semangat: Dari Duka Muazin Masjidil Haram hingga Gerakan Subuh Jamaah di Sukoharjo

Kabar YPU – 23 September 2026 | Dunia Islam tengah diselimuti suasana yang kontras antara duka mendalam dan semangat dakwah yang membara. Di satu sisi, kabar duka datang dari tanah suci Makkah, sementara di sisi lain, geliat komunitas Muslim di Indonesia menunjukkan energi positif melalui pelaksanaan ibadah subuh yang dilakukan secara berjamaah dan kolaboratif.

Kabar menyedihkan datang dari Masjidil Haram, Arab Saudi, mengenai wafatnya salah satu muazin utama, Sheikh Ibrahim bin Adel Al Madani. Tokoh yang dikenal memiliki suara merdu ini mengembuskan napas terakhirnya pada Senin, 21 September 2026, dalam usia 51 tahun. Hal yang menyentuh hati banyak umat Muslim adalah fakta bahwa beberapa jam sebelum wafat, ia masih sempat mengumandangkan azan subuh terakhirnya di Masjidil Haram. Suara azan yang syahdu tersebut sempat terekam dan beredar luas di media sosial, menjadi kenangan terakhir bagi para jemaah yang mendengarnya.

Misteri Raccoon City Terkuak: Resident Evil 2026 Raih Skor Fantastis di Tengah Kontroversi Rating Dewasa
Baca juga:
Misteri Raccoon City Terkuak: Resident Evil 2026 Raih Skor Fantastis di Tengah Kontroversi Rating Dewasa

Sheikh Ibrahim Al Madani merupakan sosok yang tumbuh dalam lingkungan religius di Madinah. Perjalanan spiritualnya dimulai sejak usia 15 tahun saat ia mulai mengumandangkan azan di lingkungan tempat tinggalnya. Setelah menempuh pendidikan Ilmu Al-Qur’an dan sempat berkarier sebagai pengajar, ia akhirnya dipercaya menjadi salah satu dari 24 muazin utama di Masjidil Haram sekitar tahun 2017. Jenazah beliau telah disalatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan di Pemakaman Al Mualla, sebuah kompleks bersejarah di Makkah.

Berbeda dengan suasana duka di Makkah, di Sukoharjo, Jawa Tengah, semangat ibadah justru sedang membuncah. Sebuah gerakan baru bertajuk “Gerakan Subuh Jamaah Round Go To Masjid” resmi diluncurkan pada Ahad, 20 September 2026. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi manis antara tiga unsur Muhammadiyah Sukoharjo, yakni Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM), Lembaga Dakwah Komunitas (LDK), dan Bikersmu Chapter Sukoharjo.

Dinamika Brasil 2026: Dari Ketegangan Diplomatik hingga Gejolak di Lapangan Hijau
Baca juga:
Dinamika Brasil 2026: Dari Ketegangan Diplomatik hingga Gejolak di Lapangan Hijau

Bertempat di Masjid An Nur, Jetis, kegiatan perdana ini dimulai sejak pukul 04.00 WIB. Gerakan ini tidak hanya sekadar mengajak umat untuk menunaikan salat subuh berjamaah, tetapi juga bertujuan menghidupkan ruang dakwah yang bergerak dari masjid ke masjid secara rutin. Dalam kuliah subuh yang disampaikan oleh H. Djumari, S.Ag., jemaah diajak untuk meneladani semangat KH Ahmad Dahlan yang menjadikan nilai agama sebagai dasar tindakan nyata, seperti mendirikan sekolah dan rumah sakit.

Bagi umat Muslim yang ingin menjaga konsistensi ibadahnya, memperhatikan jadwal salat harian sangatlah penting. Berikut adalah gambaran umum mengenai waktu dan kewajiban ibadah yang perlu diperhatikan:

Trump kembali mengusulkan perubahan nama negara bagian, mengajukan penggantian New Mexico menjadi ‘New America’ sebagai upaya rebranding politik
Baca juga:
Trump kembali mengusulkan perubahan nama negara bagian, mengajukan penggantian New Mexico menjadi ‘New America’ sebagai upaya rebranding politik
  • Waktu Subuh: Dimulai sejak terbit fajar shadiq hingga sebelum matahari terbit.
  • Kewajiban Salat: Merupakan perintah langsung dari Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al-Baqarah ayat 43.
  • Niat Salat: Dilakukan di dalam hati sebagai bentuk keikhlasan kepada Allah SWT.

Meskipun waktu dan lokasi berbeda, baik di Makkah maupun di Sukoharjo, esensi dari ibadah subuh tetaplah sama, yaitu sebagai momentum awal untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Peristiwa wafatnya Sheikh Ibrahim menjadi pengingat akan kematian yang bisa datang kapan saja, sementara gerakan di Sukoharjo menjadi inspirasi bahwa dakwah harus terus bergerak dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Post Comment