Skip to content

Manuver Besar Haji Isam: Akuisisi 30% Saham Bayan Resources di Tengah Ketidakpastian Regulasi

Manuver Besar Haji Isam: Akuisisi 30% Saham Bayan Resources di Tengah Ketidakpastian Regulasi
Manuver Besar Haji Isam: Akuisisi 30% Saham Bayan Resources di Tengah Ketidakpastian Regulasi

Kabar YPU – 19 September 2026 | Dunia bisnis pertambangan Indonesia kembali diguncang oleh aksi korporasi besar yang melibatkan dua raksasa industri. Pengusaha ternama Andi Syamsuddin Arsyad, atau yang akrab disapa Haji Isam, melalui PT Jhonlin Baratama, resmi melakukan langkah strategis dengan mengambil alih sebagian besar kepemilikan saham di PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Transaksi ini melibatkan pengalihan saham milik low tuck kwong dan putrinya, Elaine Low, yang menandai pergeseran peta kekuatan di sektor batu bara nasional.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis manajemen, PT Jhonlin Baratama telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat pada 16 September 2026. Dalam kesepakatan tersebut, Haji Isam akan membeli sebanyak 10.000.000.500 lembar saham BYAN. Jumlah ini setara dengan sekitar 30 persen dari total saham perusahaan yang beredar. Sebelum adanya transaksi ini, low tuck kwong memegang kendali sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sekitar 40,25 persen, sementara Elaine Low memegang sekitar 22 persen.

Strategi Danantara Selamatkan Industri Tekstil: Akusisi Sritex atau Bangun BUMN Baru?
Baca juga:
Strategi Danantara Selamatkan Industri Tekstil: Akusisi Sritex atau Bangun BUMN Baru?
Pemegang Saham Estimasi Kepemilikan Sebelum Transaksi Status Setelah Transaksi (Estimasi)
Low Tuck Kwong & Elaine Low ~62,25% ~32,25%
PT Jhonlin Baratama (Haji Isam) 0% ~30%

Pasca pengumuman akuisisi tersebut, pasar merespons dengan sangat positif. Saham BYAN langsung melesat hingga menyentuh level Auto Rejection Atas (ARA) dengan penguatan mencapai 19,96 persen ke harga Rp13.825 per lembar. Euforia investor ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap sinergi antara grup Jhonlin dan Bayan Resources, meskipun transaksi ini masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan.

Namun, di balik kegembiraan pasar, terdapat tantangan operasional yang cukup serius. Manajemen BYAN sebelumnya telah mengungkapkan adanya kondisi force majeure yang berkaitan dengan belum disetujuinya perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 oleh Kementerian ESDM. Belum terbitnya persetujuan ini berdampak material karena perusahaan tidak dapat melakukan kegiatan produksi secara maksimal, yang pada gilirannya menyulitkan pemenuhan kewajiban kepada pelanggan.

Di forum G20, Bank Indonesia mengungkap tiga strategi utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global, termasuk kebijakan moneter, penguatan pasar keuangan, dan pengelolaan risiko eksternal
Baca juga:
Di forum G20, Bank Indonesia mengungkap tiga strategi utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global, termasuk kebijakan moneter, penguatan pasar keuangan, dan pengelolaan risiko eksternal

Ketidakpastian regulasi ini juga memicu reaksi dari lembaga pemeringkat global. Moody’s Ratings secara mengejutkan mengubah outlook peringkat kredit Bayan Resources dari stabil menjadi negatif, meskipun tetap mempertahankan Corporate Family Rating (CFR) di level Ba1. Langkah Moody’s ini didasarkan pada risiko ketidakpastian kuota produksi yang dapat mengganggu pendapatan perusahaan. Moody’s memprediksi bahwa jika kuota produksi tidak segera disetujui, EBITDA BYAN pada tahun 2026 berpotensi merosot hingga 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain di sektor batu bara, jejak investasi Haji Isam juga terlihat luas di bursa. Selain melalui Jhonlin Baratama, ia tercatat memiliki sekitar 1 persen saham di PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) dan menguasai 20,05 persen saham di PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK). Diversifikasi portofolio ini menunjukkan kekuatan finansial sang konglomerat dalam merambah berbagai sektor industri di Indonesia.

Dinamika Ekosistem Digital: Dari Ketegasan Layanan Gojek Hingga Ekspansi Talenta Fintech Global
Baca juga:
Dinamika Ekosistem Digital: Dari Ketegasan Layanan Gojek Hingga Ekspansi Talenta Fintech Global

Secara keseluruhan, langkah akuisisi ini merupakan pedang bermata dua bagi Bayan Resources. Di satu sisi, masuknya modal dan kekuatan dari grup Haji Isam memberikan sentimen positif bagi struktur kepemilikan dan nilai saham di bursa. Di sisi lain, perusahaan harus segera menavigasi tantangan regulasi RKAB agar potensi produksi tidak terhambat, mengingat stabilitas keuangan jangka panjang sangat bergantung pada kemampuan produksi batu bara yang efisien.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan