Kabar YPU – 07 November 2026 | Suasana khidmat dan penuh nilai budaya menyelimuti Surakarta saat gusti sura, atau yang dikenal secara resmi sebagai GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo, resmi dipersunting oleh Fransiskus Xaverius Adimas Rosdian dalam sebuah rangkaian pernikahan agung yang memadukan tradisi Jawa dan sakramen Katolik.
Perayaan yang dikenal sebagai Hajad Dalem Dhaup Ageng ini tidak hanya sekadar penyatuan dua insan, tetapi juga menjadi representasi kekayaan budaya Mangkunegaran. Sebelum mencapai puncaknya, Gusti Sura telah menjalani berbagai rangkaian prosesi adat yang sarat makna sejak awal November 2026. Dimulai dari tradisi sengkeran pada 3 November, dilanjutkan dengan pemasangan bleketepe, nyantri, hingga prosesi langkahan, siraman, dan midodareni.
Rangkaian Prosesi Adat yang Sarat Makna
Salah satu momen penting dalam rangkaian ini adalah prosesi langkahan yang dilaksanakan pada Kamis, 5 November 2026, di nDalem Ageng Pura Mangkunegaran. Mengingat Gusti Sura menikah mendahului kakaknya, G.P.H. Paundrakarna Jiwa Suryanegara, prosesi ini menjadi bentuk penghormatan dan permohonan restu kepada sang kakak agar perjalanan rumah tangga keduanya berjalan lancar.
Selain itu, terdapat pula prosesi dodol dawet yang melambangkan kesiapan orang tua untuk melepas putri mereka dengan penuh restu. Berikut adalah ringkasan rangkaian prosesi utama yang dijalani oleh kedua mempelai:
- Sengkeran: Tahap awal persiapan calon pengantin.
- Langkahan: Permohonan izin kepada kakak karena menikah lebih dahulu.
- Siraman: Ritual pembersihan diri dan penerimaan doa dari para sesepuh.
- Midodareni: Malam menjelang akad/pemberkatan yang penuh dengan suasana sakral.
- Dhaup Suci & Panggih: Pertemuan resmi kedua mempelai sebagai suami istri.
Sakramen Perkawinan di Gereja Bersejarah
Pada Jumat pagi, 6 November 2026, janji suci diucapkan di Gereja Katolik Santo Antonius Padua Purbayan, Solo. Gereja yang memiliki nilai sejarah tinggi ini merupakan salah satu tempat ibadah tertua di Solo, dengan jejak komunitas Katolik yang sudah ada sejak tahun 1812. Pemberkatan pernikahan dipimpin oleh tiga romo, yakni Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr, Romo Walterus Teguh Santosa, SJ, dan Romo Ibnu Fajar Muchammad, MSF. SC.
Dalam suasana yang penuh haru, Fransiskus Xaverius Adimas Rosdian dan gusti sura mengucapkan janji setia di hadapan Tuhan. Adimas menyatakan kesediaannya untuk mengabdikan diri kepada istrinya dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit. Komitmen yang sama juga diucapkan oleh Gusti Sura, yang menyatakan kesetiaannya untuk mengasihi dan menghormati suaminya sepanjang hayat. Prosesi ini ditutup dengan penyerahan simbolis Kitab Suci, salib, dan rosario oleh orang tua Adimas, KP Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni Soeroso, sebagai bekal spiritual bagi kehidupan baru mereka.
Profil Mempelai Wanita: Sang Penjaga Budaya
Gusti Sura bukan sekadar putri dari KGPAA Mangkoenagoro IX, ia adalah sosok yang memiliki kedekatan mendalam dengan dunia seni. Sebagai Pengageng Kawedanan Panti Budaya di Pura Mangkunegaran, ia aktif mengurus bidang seni dan tradisi, serta sering mendampingi diplomasi budaya Mangkunegaran di kancah internasional. Karakteristik budaya yang kuat ini terpancar jelas dalam setiap tahapan pernikahan yang ia jalani.
Setelah pemberkatan di gereja, rangkaian acara dilanjutkan dengan upacara panggih dan resepsi megah di Pura Mangkunegaran pada malam harinya. Pernikahan ini menjadi bukti nyata bagaimana nilai-nilai spiritualitas agama dan kearifan lokal tradisi Jawa dapat berjalan beriringan dalam harmoni yang indah.
Pernikahan antara Gusti Sura dan Adimas Rosdian ini menjadi catatan sejarah penting bagi keluarga besar Mangkunegaran, sekaligus menjadi inspirasi tentang bagaimana menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman modern.

Leave a comment