Kabar YPU – 28 Oktober 2026 | Sektor energi dan ekonomi nasional tengah menghadapi tantangan yang kompleks di penghujung Oktober 2026. Di satu sisi, pasar keuangan merasakan tekanan akibat fluktuasi nilai tukar, sementara di sisi lain, pemerintah dan industri melalui Pertamina terus berupaya menjaga ketahanan pasokan bahan bakar serta mendorong inovasi energi berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah rumah tangga.
Pada perdagangan Rabu (28/10/2026), nilai tukar rupiah dibuka melemah di level Rp18.171 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan sebesar 0,08% ini dipicu oleh dinamika pasokan energi dalam negeri. Meski pemerintah memastikan stok bahan bakar bersubsidi masih mencukupi untuk kebutuhan 16 hingga 18 hari ke depan, pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa kecukupan stok tidak secara otomatis melindungi APBN dari risiko kenaikan harga minyak dunia. Fluktuasi rupiah diproyeksikan akan terus bergerak di rentang Rp18.130 hingga Rp18.180, yang menuntut pengelolaan risiko nilai tukar dan cadangan energi yang lebih ketat oleh pemerintah.
Di tengah tekanan ekonomi tersebut, stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat konsumen menjadi perhatian utama masyarakat. Berdasarkan pantauan di lapangan hingga 27 Oktober 2026, harga BBM di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, terpantau masih stabil mengacu pada tarif sebelumnya. Berikut adalah rincian harga BBM di beberapa penyedia layanan:
| Penyedia | Jenis BBM | Harga per Liter (Estimasi) |
|---|---|---|
| Pertamina | Pertalite (Subsidi) | Rp10.000 |
| Pertamina | Pertamax | Rp15.950 |
| Pertamina | Pertamax Turbo | Rp19.600 |
| Pertamina | Dexlite | Rp23.700 |
| Pertamina | Pertamina Dex | Rp25.200 |
| Shell | V-Power Diesel | Rp25.420 |
| BP | BP 92 | Rp16.130 |
| Vivo | Revvo 95 | Rp19.330 |
Selain menjaga stabilitas harga, langkah transformatif sedang diambil untuk menciptakan ekosistem energi hijau. PT Pertamina Patra Niaga melalui Green Refinery Cilacap tengah memperkuat pengolahan minyak jelantah (mijel) menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur. Inovasi ini mendapat perhatian langsung dari Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, saat melakukan kunjungan kerja ke Kilang Cilacap pada Senin (26/10).
Proses produksi SAF ini menggunakan teknologi Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) dengan skema co-processing, di mana minyak jelantah diolah bersama komponen bahan baku lainnya. Pada bulan Oktober ini, produksi telah mencapai sekitar 11 juta liter co-processed SAF, dengan penggunaan minyak jelantah mencapai rasio maksimal 5 persen dari total kapasitas produksi unit TDHT. Penggunaan limbah sebagai bahan bakar penerbangan ini tidak hanya bertujuan mengurangi emisi karbon, tetapi juga memberikan dampak ekonomi sirkular bagi masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat menjadi pilar penting dalam rantai pasok bioavtur ini. Melalui program Community, Involvement and Development (CID), Pertamina melibatkan kelompok pengelola sampah dan bank sampah lokal di sekitar Cilacap, seperti Bank Sampah Beo Asri, Abhipraya, dan Cahaya Asri. Masyarakat dapat mengumpulkan minyak jelantah mereka dan menukarkannya dengan nilai ekonomi berupa uang atau saldo e-wallet melalui Collection Box yang tersedia di SPBU maupun pasar lokal. Hal ini memastikan bahwa transisi menuju energi terbarukan juga mendukung kesejahteraan ekonomi warga setempat.
Secara keseluruhan, kondisi energi nasional saat ini berada dalam fase transisi yang krusial. Ketahanan pasokan bahan bakar fosil harus terus dijaga untuk stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat, sementara pengembangan teknologi bahan bakar nabati berbasis limbah menjadi kunci untuk mencapai kemandirian energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di masa depan.

Leave a comment