Kabar YPU – 20 Oktober 2026 | Kawasan hutan di lereng gunung lawu tengah menghadapi situasi kritis setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas dengan cepat. Berdasarkan data terbaru dari sistem pemantauan SiPongi, titik api di kawasan tersebut melonjak drastis dari 10 titik menjadi 36 titik, dengan estimasi luas area yang terdampak mencapai 230 hektare. Kebakaran ini telah memicu penetapan status tanggap darurat bencana di Kabupaten Karanganyar yang berlaku selama 14 hari sejak Sabtu, 17 Oktober 2026.
Guna menekan laju api yang terus merambat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan kekuatan udara. Dua helikopter milik TNI, yakni Super Puma dan Mi-17, dikerahkan untuk melakukan operasi water bombing atau pengeboman air. Masing-masing helikopter memiliki kapasitas angkut air yang cukup besar, yakni sekitar 2.000 hingga 2.500 liter dalam sekali pengangkutan.
Namun, upaya pemadaman melalui udara tidak berjalan tanpa hambatan. Komandan Lanud Adi Soemarmo, Marsma TNI Henri Ahmad Badawi, mengungkapkan bahwa kondisi geografis di sekitar puncak menjadi tantangan utama. Dengan ketinggian mencapai sekitar 10.000 kaki, ruang manuver helikopter menjadi sangat terbatas. Selain itu, faktor cuaca seperti angin kencang, ketebalan awan, serta asap yang pekat seringkali menghalangi jarak pandang pilot, sehingga operasi udara tidak dapat dilakukan secara optimal sesuai rencana awal.
| Faktor Kendala Pemadaman Udara |
|---|
| Ketinggian Wilayah (±10.000 kaki) |
| Medan Terjal dan Berlembah |
| Kondisi Cuaca (Angin Kencang & Awan Tebal) |
| Ketebalan Asap Kebakaran |
Di sisi lain, pemadaman melalui jalur darat terus diintensifkan oleh petugas gabungan yang terdiri dari TNI AD, TNI AU, kepolisian, BPBD, serta para relawan. Salah satu titik api yang paling sulit dijangkau adalah kawasan Cemoro Kandang karena medannya yang sangat curam dan berbukit. Hingga saat ini, sekitar 70 personel dilaporkan sedang bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman manual serta pembuatan sekat bakar guna mencegah api menjalar lebih luas ke pemukiman atau area hutan lainnya.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga pada aspek penegakan hukum. Ia telah berkoordinasi dengan Polda Jawa Tengah untuk menyelidiki penyebab pasti kebakaran ini. Investigasi mendalam dilakukan untuk memastikan apakah bencana ini murni faktor alam atau terdapat unsur kesengajaan oleh pihak tertentu. “Jika karhutla ini terbukti ada unsur kesengajaan, maka akan ada efek jera bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan,” tegas Luthfi.
Situasi karhutla ini tidak hanya melanda kawasan gunung lawu, tetapi juga merambat ke Gunung Sumbing di Kabupaten Wonosobo. Di Gunung Sumbing, kebakaran telah berdampak pada wilayah Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar, dan memaksa evakuasi terhadap 152 pendaki. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya mengoordinasikan sumber daya, termasuk kemungkinan pengalihan bantuan water bombing dari kawasan Lawu ke Sumbing setelah situasi di Lawu terkendali.
Kondisi hutan yang terbakar ini menjadi peringatan keras akan pentingnya menjaga kelestarian alam, terutama di kawasan pegunungan yang menjadi ikon wisata dan spiritual bagi masyarakat. Penanganan yang terintegrasi antara jalur darat dan udara diharapkan dapat segera memutus rantai kebakaran sebelum kerusakan ekosistem di lereng gunung lawu menjadi semakin parah.

Leave a comment