Kabar YPU – 15 Oktober 2026 | Kondisi mencekam menyelimuti wilayah Palangka Raya dan sekitarnya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian tak terkendali. Kabut asap tebal berwarna oranye pekat kini menyelimuti kota, menciptakan suasana gelap gulita bahkan di siang hari. Kualitas udara di wilayah ini telah mencapai level yang sangat berbahaya, dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) menembus angka 2.052 menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, sebuah angka yang mengancam nyawa kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Dampak paling nyata dari bencana ini adalah lumpuhnya aktivitas transportasi udara. Bandara Tjilik Riwut mengalami kendala operasional selama tiga hari berturut-turut karena jarak pandang yang sangat minim. Humas PT Angkasa Pura Indonesia melaporkan bahwa jarak pandang sempat merosot hingga di bawah 300 meter, yang membuat kegiatan penerbangan tidak mungkin dilakukan demi keselamatan penumpang.
Strategi Penanganan: Operasi Modifikasi Cuaca dan Water Bombing
Menanggapi situasi kritis ini, Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengambil langkah agresif. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengumumkan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan digelar pada 15-16 Oktober untuk memicu hujan guna memadamkan titik api. Mengingat kondisi jarak pandang di bandara lokal masih belum memungkinkan, armada pesawat OMC akan diterbangkan dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin.
Selain modifikasi cuaca, pemerintah juga mengerahkan kekuatan udara dan darat secara terintegrasi:
- Helikopter Water Bombing: Saat ini terdapat enam helikopter yang disiagakan, dengan pengarahan khusus ke wilayah Kuala Pembuang.
- Pasukan Darat: Sebanyak 160 personel dikerahkan ke Taman Nasional Tanjung Puting untuk memadamkan api di titik-titik prioritas seperti Pesalat, Teluk Pulai, dan Sungai Buluh.
- Sumur Bor: Penambahan sekitar 30 sumur bor disiapkan untuk memastikan ketersediaan air di area lahan gambut.
- Teknologi Drone: Penggunaan drone thermal dilakukan untuk mengidentifikasi empat ‘battleground’ utama guna memetakan titik api dengan akurat.
Data Sebaran Titik Panas dan Kerusakan Lahan
Berdasarkan data sistem pemantauan, kebakaran ini telah menyebar luas di berbagai kabupaten di Kalimantan Tengah. Berikut adalah ringkasan data titik panas (hotspot) dan dampak lahan:
| Wilayah/Kategori | Data/Jumlah |
|---|---|
| Luas Lahan Terbakar (Palangka Raya) | 1.444 Hektare |
| Total Hotspot (Provinsi Kalteng) | 11.166 Titik |
| Hotspot Terbanyak (Kab. Kapuas) | 53 Titik |
| Peristiwa Karhutla (Juni – Okt 2026) | 887 Kejadian |
Faktor Kerusakan Ekosistem dan Investigasi Kayu Ramin
Bencana ini tidak hanya disebabkan oleh fenomena alam seperti El Nino, melainkan juga akibat kerusakan ekosistem yang sistematis. Direktur Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK), Muhammad Ichwan, menyoroti hilangnya kelembapan alami hutan gambut akibat deforestasi dan pembalakan liar. Salah satu temuan mengejutkan adalah adanya indikasi eksploitasi ilegal kayu ramin (Gonystylus bancanus) yang berstatus sangat terancam punah.
Investigasi menunjukkan bahwa penebangan ramin di kawasan lindung telah merusak fungsi hidrologis gambut. Menariknya, pengujian DNA pada sampel produk sumpit di pasar global mengonfirmasi adanya kandungan kayu ramin dari Kalimantan. Hal ini mempertegas bahwa kerusakan hutan di Palangka Raya dan sekitarnya memiliki keterkaitan erat dengan rantai perdagangan ilegal internasional yang merusak daya tahan hutan terhadap api.
Saat ini, pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan terus bekerja tanpa henti di lapangan. Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada terhadap kualitas udara yang buruk dan membatasi aktivitas di luar ruangan hingga kondisi kabut asap mereda.

Leave a comment