Skip to content

Dosa Digital Mark Zuckerberg: Mengupas Sisi Gelap Algoritma dalam Film The Social Reckoning

Dosa Digital Mark Zuckerberg: Mengupas Sisi Gelap Algoritma dalam Film The Social Reckoning
Dosa Digital Mark Zuckerberg: Mengupas Sisi Gelap Algoritma dalam Film The Social Reckoning

Kabar YPU – 09 Oktober 2026 | Dunia sinema kembali disuguhkan dengan refleksi tajam mengenai dampak destruktif teknologi terhadap masyarakat melalui film terbaru garapan Aaron Sorkin, the social reckoning. Jika film sebelumnya, The Social Network, berfokus pada ambisi dan awal mula berdirinya Facebook, film ini justru hadir sebagai sebuah peringatan keras tentang konsekuensi dari pertumbuhan tanpa kendali yang telah dilepaskan ke dunia luas.

Dalam the social reckoning, penonton diajak menyelami dinamika internal Meta (sebelumnya Facebook) yang terjebak dalam konflik antara mengejar pertumbuhan pengguna secara masif dan tanggung jawab menjaga keamanan platform. Aaron Sorkin, yang kini berperan sebagai penulis sekaligus sutradara, menyoroti bagaimana algoritma yang dimodifikasi untuk mendorong pembagian ulang konten (reshares) justru menjadi mesin penggerak polarisasi dan perpecahan sosial.

Bill Gates memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dapat menggantikan pekerjaan kantor dan mengancam posisi buruh dengan pengalaman kurang dari lima tahun
Baca juga:
Bill Gates memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dapat menggantikan pekerjaan kantor dan mengancam posisi buruh dengan pengalaman kurang dari lima tahun

Konflik Antara Pertumbuhan dan Keamanan

Narasi film ini berpusat pada sosok Mark Zuckerberg yang diperankan oleh Jeremy Strong. Berbeda dengan penggambaran sebelumnya, karakter Zuckerberg di sini digambarkan sangat terobsesi pada angka pertumbuhan hingga mengabaikan aspek keselamatan pengguna. Sorkin menekankan bahwa ketegangan antara ekspansi bisnis dan perlindungan publik telah mencapai titik kritis di mana keamanan telah dikorbankan demi keuntungan semata.

Film ini juga mengangkat kisah nyata dari whistleblower Frances Haugen (diperankan oleh Mickey Madison) yang mengungkap bagaimana platform tersebut membiarkan ujaran kebencian, kekerasan, dan misinformasi menyebar dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada yang diakui oleh perusahaan. Melalui sudut pandang investigasi Jeff Horwitz (Jeremy Allen White) dari The Wall Street Journal, penonton melihat bagaimana data yang dimanipulasi dapat mengubah pola pikir manusia, dari individu yang moderat menjadi ekstremis melalui ruang gema algoritma.

Ekspansi Ambisius Google: Dari Chip AI di Luar Angkasa Hingga Inovasi Desain Berbasis AI
Baca juga:
Ekspansi Ambisius Google: Dari Chip AI di Luar Angkasa Hingga Inovasi Desain Berbasis AI
Aspek Konflik Dampak yang Digambarkan
Algoritma Konten Mendorong konten divisif dan radikalisasi
Prioritas Korporasi Pertumbuhan pengguna di atas keselamatan publik
Dampak Sosial Penyebaran misinformasi dan polarisasi politik
Tanggung Jawab Hukum Kelalaian dalam menangani narasi berbahaya saat krisis

Kritik Terhadap Kekuasaan Teknologi Raksasa

Salah satu momen paling intens dalam the social reckoning adalah penggambaran peran platform dalam peristiwa kerusuhan Capitol pada 6 Januari. Film ini secara frontal mengkritik kelumpuhan internal perusahaan dan keengganan sistemik untuk menghentikan retorika yang memicu kekacauan. Hal ini menunjukkan bahwa tanggung jawab moral sebuah perusahaan teknologi tidak bisa lagi dikesampingkan dengan dalih netralitas platform.

Meskipun film ini mendapat pujian atas akting para pemainnya, terutama performa Mickey Madison yang emosional, beberapa kritikus menilai bahwa film ini lebih berfungsi sebagai pengulangan dari realitas yang sudah kita ketahui daripada menawarkan perspektif baru yang radikal. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa the social reckoning berhasil memberikan resonansi emosional yang kuat mengenai bagaimana keserakahan korporasi dapat mengancam stabilitas demokrasi global.

Bocoran harga iPhone 18 Pro Max dan iPhone 18 Duo di Indonesia mengungkap kisaran, mana yang paling layak dibeli?
Baca juga:
Bocoran harga iPhone 18 Pro Max dan iPhone 18 Duo di Indonesia mengungkap kisaran, mana yang paling layak dibeli?

Pada akhirnya, film ini bukan sekadar drama biografi, melainkan sebuah audit moral terhadap era digital kita. Ia mempertanyakan apakah pencapaian teknologi yang begitu pesat sebanding dengan keretakan sosial yang ditinggalkannya. Melalui narasi yang intens, penonton diingatkan bahwa di balik kemudahan konektivitas digital, terdapat harga mahal yang harus dibayar oleh masyarakat dunia.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan