Kabar YPU – 08 Oktober 2026 | Dunia perdagangan komoditas nangka di Indonesia tengah menghadapi dinamika yang kontras antara kemunduran pasar tradisional dan tantangan pasokan bahan baku kuliner. Di Jakarta, kondisi pasar nangka bungur yang terletak di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, menunjukkan tren yang memprihatinkan. Pasar yang dulunya merupakan pusat keramaian sejak diresmikan pada tahun 2016 ini, kini hanya menyisakan aktivitas di sekitar seperempat kiosnya saja.
Suasana di dalam pasar nangka bungur sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan satu dekade lalu saat pertama kali dibuka. Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak kios yang kini tertutup rapat dan hanya segelintir pedagang yang masih bertahan. Fenomena ini menciptakan pemandangan yang kontras dengan luas area pasar yang mencapai 1.523 meter persegi dengan kapasitas asli 163 tempat usaha.
| Faktor Penyebab Sepinya Pasar | Dampak bagi Pedagang |
|---|---|
| Aksesibilitas yang sulit ke dalam area pasar | Penurunan omzet harian secara signifikan |
| Keterbatasan lahan parkir bagi pengunjung | Banyak pedagang memilih berjualan di luar area resmi |
| Perubahan perilaku belanja masyarakat | Risiko kerugian akibat sepinya pembeli |
Sugi, salah seorang pedagang yang kini lebih banyak beraktivitas di luar area pasar, mengungkapkan bahwa masalah utama bukanlah pada harga sewa, melainkan pada ketiadaan pembeli. Menurutnya, akses parkir yang sempit dan sulit membuat calon pembeli enggan masuk ke dalam, sehingga mereka lebih memilih berbelanja di pinggir jalan atau area luar pasar nangka bungur. Hal ini menjadi tantangan serius bagi eksistensi pasar tradisional dalam menghadapi perubahan kebutuhan masyarakat modern.
Berbeda dengan dinamika di Jakarta, tantangan komoditas nangka justru muncul dalam bentuk defisit pasokan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Nangka muda atau yang dikenal sebagai gori, merupakan bahan baku utama pembuatan gudeg. Namun, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah sangat tinggi akibat minimnya jumlah pohon nangka di wilayah Yogyakarta sendiri.
Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, mengungkapkan bahwa krisis ketersediaan gori telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Di beberapa wilayah seperti Gunungkidul, ketersediaan nangka yang sangat minim memaksa masyarakat melakukan improvisasi ekstrem dengan menggunakan batang pohon pisang atau gedebok pisang sebagai pengganti nangka dalam pembuatan gudeg.
Data menunjukkan adanya kesenjangan pasokan yang cukup besar di Yogyakarta:
- Kebutuhan harian nangka muda untuk industri kuliner gudeg: 9 ton
- Produksi lokal wilayah DIY: 2 ton
- Defisit pasokan yang harus dipenuhi dari luar daerah: 7 ton
Menanggapi permasalahan ini, langkah strategis mulai diambil melalui pengembangan kawasan pangan berbasis lingkungan. Hutan seluas 87 hektare di Gunungkidul kini dikembangkan menjadi kawasan budidaya pohon nangka melalui program Hutan Lestari Wanaboga Nangka. Program kolaboratif antara Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY ini melibatkan sekitar 400 petani lokal.
Upaya optimalisasi lahan di Gunungkidul ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. Dengan adanya integrasi antara pemanfaatan lahan berkelanjutan dan kebutuhan industri kuliner, diharapkan stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku nangka dapat terjaga, sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat pedesaan.
Secara keseluruhan, fenomena yang terjadi pada komoditas nangka mencerminkan dua sisi mata uang ekonomi. Di satu sisi, infrastruktur pasar seperti pasar nangka bungur perlu segera diperbaiki untuk menarik kembali minat pembeli, dan di sisi lain, penguatan sektor hulu melalui budidaya terintegrasi menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan krisis bahan baku pangan di sektor kuliner tradisional.

Leave a comment